Kredit bermasalah BTN naik jadi 2,92%, ini penyebabnya

Kamis, 2 Mei 2019 | 16:33 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Tiga dari empat bank BUMN mencatatkan perbaikan rasio kredit macet di triwulan pertama tahun 2019 ini. Namun berbeda dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN, anggota indeks Kompas100).

Bank ini justru mengalami kenaikan rasio kredit bermasalah dimana NPL gross kuartal I tercatat 2,92%, naik dari 2,78% di triwulan pertama tahun lalu. NPL nett perseroan juga naik dari level 1,78% menjadi 2%.

Namun, peningkatan ini juga dibarengi dengan cadangan atau coverage ratio yang dipupuk oleh BTN dari 42,29% di kuartal I-2018 menjadi 45,07% per akhir Maret 2019.

Untuk memperbaiki rasio NPL, BTN akan juga akan melakukan pencadangan tahun ini. "Tahun lalu kami menaikkan CKPN (cadangan kerugian penurunan nilai) terutama di kuartal IV-2018 sebesar Rp 1,8 triliun. Kita perkirakaan di tahun ini juga kurang lebih mirip angkanya," kata Direktur Collection and Asset Management BTN Nixon Napitupulu.

Hal ini berbeda dengan tiga bank BUMN lain. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI, anggota indeks Kompas100) misalnya mampu menjaga rasio NPL gross di level 1,9% di tengah pertumbuhan kredit. Rasio kredit bermasalah itu turun dari 2,3% di kuartal I tahun 2018. Hanya saja, NPL nett BNI naik tipis dari 0,8% menjadi 0,9%.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI, anggota indeks Kompas100) juga berhasil mencatatkan perbaikan rasio kredit bermasalah di kuartal I. NPL gross BRI turun dari 2,39% di triwulan pertama tahun lalu menjadi 2,31%. Begitupun dengan NPL nett turun dari 1,16% menjadi 1,05%.

Sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI, anggota indeks Kompas100) mencatatkan rasio NPL gross sebesar 2,68%, turun dari dari 3,32% di triwulan I 2018. Sehingga memangkas alokasi biaya pencadangan perseroan menjadi Rp2,8 triliun dari Rp3,8 triliun atau berhasil turun sebesar 28,1% yoy. kbc10

Bagikan artikel ini: