Pinjaman bermasalah fintech melandai di Maret 2019

Selasa, 7 Mei 2019 | 09:53 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pinjaman bermasalah dari perusahaan teknologi finansial (fintech) peer to peer (P2P) lending kembali melandai.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Maret 2019 menunjukkan non performing loan (NPL) atau tingkat wanprestasi di atas 90 hari pada sebesar 2,62%.

Rasio tersebut ini turun dibandingkan posisi Februari 2019 yang berada di level 3,18%. Kendati demikian, posisi NPL ini masih lebih tinggi dibanding akhir 2018 yang terparkir di posisi 1,45%.

Penurunan NPL pada kuartal pertama 2019 diikuti dengan kenaikan jumlah pinjaman. Pada tiga bulan pertama P2P lending menyalurkan pinjaman senilai Rp 33,2 triliun. Nilai ini tumbuh 46,48% bila dibandingkan posisi Desember 2018 senilai Rp 22,66 triliun.

PT Kredit Pintar Indonesia misalnya mencatatkan penyaluran pinjaman lebih dari Rp 3 triliun ke seluruh wilayah Indonesia hingga Maret 2019. Direktur Utama PT Kredit Pintar Wisely Reinharda Wijaya mengatakan penggunaan pinjaman Kredit Pintar sebanyak 70% disalurkan untuk biaya modal kerja, dan biaya lainnya seperti bersalin, renovasi, dan belanja.

"Tidak ada namanya NPL karena kami hanyalah platform dan tidak menyalurkan dana sendiri. Lebih cocok diukur dari TKB yaitu Tingkat Keberhasilan pengembalian dana lender pada hari ke 90. TKB ini di-publish di semua website P2P lending, dan dapat di lihat di Kredit Pintar TKB90 kami adalah 100%," ujar Wisely, Senin (6/5/2019).

Sebelumnya, per 2018, fintech lending ini telah menyalurkan pinjaman sekitar Rp 2,2 triliun. Pada tahun ini perusahaan membidik penyaluran pinjaman setidaknya mencapai Rp 4,4 triliun secara kumulatif. Wiseley menyebut guna menjaga kualitas pinjaman pihaknya telah menyiapkan strategi risiko seperti bekerja sama dengan perusahaan asuransi.

PT Lunaria Annua Teknologi sebagai pemegang merek perusahaan peer to peer lending Koinworks menyatakan pada akhir 2018 lalu mencatatkan NPL di posisi 0,44% dengan total pinjaman Rp 700 miliar.

Chief of Marketing Officer Koinworks Jonathan Bryan menyebut pada Apri 2019 NPL Koinworks berada di posisi 0,61%. Dia bilang, saat ini setiap bulannya rata-rata Koinwors menyalurkan pinjaman sekitar Rp 150 miliar atau mengalami pertumbuhan rata-rata 20% hingga 30% per bulan.

"Bisnis finance perubahan nilai NPL adalah perubahan yang wajar. Namun kami dari Koinworks masih tetap menjaga NPL di bawah 1%," ujar Jonathan.

Agar borrower dapat mengembalikan dana pinjaman dari lender saat kebutuhan di Bulan Ramadan dan Lebaran meningkat, Koinworks menyiapkan strategi khusus. Mulai dari sosialisasi mengenai perencanaan keuangan. Agar borrower mulai dipersiapkan mengenai pos-pos pengeluaran selama Ramadan dan Lebaran.

"Kami juga melakukan reminder pembayaran kepada borrower lebih awal. Mengingat Tunjangan Hari Raya yang akan turun di lebaran ini, kami juga menawarkan program pelunasan di awal tanpa adanya biaya pinalti bagi para borrower Koinworks," jelas Jonathan.

Koinworks sendiri membidik penyaluran pinjaman sepanjang 2019 senilai Rp 2,2 triliun-Rp 2,3 triliun. Demi mencapai target ini, Koinworks akan memperluas kerjasama dengan institusi. Tujuannya agar secara nominal pemberi dana dari institusi bisa bertambah dari 15% saat ini menjadi 50% dari seluruh pendanaan di penghujung 2019. kbc10

Bagikan artikel ini: