Perang dagang AS-China kembali memanas, kinerja ekspor Indonesia terancam

Jum'at, 10 Mei 2019 | 18:36 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perang dagang kembali memanas menyusul pemberlakuan bea masuk (BM) impor sebesar 25% atas produk dari China yang masuk ke Amerika Serikat (AS). Tentunya hal ini akan berimbas terhadap Indonesia.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang mengenakan BM 25%  kepada produk China akan berpengaruh negatif terhadap Indonesia. Darmin menjelaskan apabila perang dagang berkelanjutan, dampak paling besar akan dirasakan pada perlambatan pertumbuhan ekonomi China.

“Hal tersebut berarti, impor mereka akan turun. "Artinya, ekspor kita ke sana dapat turun," ujar Darmin kepada wartawan di Jakarta, Jumat (10/5/2019).

Darmin menerangkan nilai perdagangan antara Indonesia dengan Cina memang belum dipastikan semakin mengalami defisit. Namun yang pasti adalah, nilai ekspor dan impor kedua negara akan menurun.

Darmin menilai perang dagang antara dua negara ekonomi terbesar dunia ini akan terus berlanjut. Setelah ini, Cina biasanya akan membalas Cina yang kemudian kembali menimbulkan dampak. Selain kedua negara, negara lain pun akan ikut merugi. "Walaupun kita tidak ikut perang dagang, dampaknya pasti kena," kata dia.

Dengan adanya kondisi tersebut, Darmin optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan terganggu signifikan. Ia bahkan meyakini target pertumbuhan 5,3% sampai akhir tahun masih dapat terwujud.

Keyakinan tersebut berdasarkan indikasi pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2019 yang mengalami pertumbuhan dibanding dengan periode sama pada tahun lalu. Meski hanya tumbuh 0,01%, yaitu dari 5,06%. Darmin melihat angka tersebut menunjukkan kondisi ekonomi Indonesia masih baik.

Namun demikian, Darmin memastikan pemerintah kini terus mengkaji untuk mendorong ekspor. Khususnya di sektor-sektor prioritas yang ditetapkan Kementerian Perindustrian dalam roadmap Making Industry 4.0, seperti makanan dan minuman. "Prioritas tersebut bukan muluk, tapi kapasitasnya sudah ada untuk produksi dan ekspor, kini tinggal tingkatkan," tuturnya.

Di sisi lain, pemerintah juga akan terus mendorong pengolahan sumber daya alam yang kini menjadi dorongan utama terhadap ekspor Indonesia. Termasuk di antaranya kelapa sawit dan karet. Darmin melihat pertumbuhan ekspor akan semakin mudah dilakukan mengingat pembangunan infrastruktur strategis yang sudah masif. 

Selama lima tahun terakhir, pemerintah berupaya menambah dan memaksimalkan infrastruktur guna mendorong pertumbuhan ekonomi. "Dengan itu, kita berharap, tahun ini bisa 5,3% dan lebih tinggi lagi di tahun depan," terangnya.kbc11

Bagikan artikel ini: