Intiland bagikan dividen Rp20,7 miliar ke pemegang saham

Rabu, 15 Mei 2019 | 16:14 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pengembang properti PT Intiland Development Tbk membukukan laba bersih tahun 2018 senilai Rp203,7 miliar.

Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland, Archied Noto Pradono mengatakan, perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp20,7 miliar dari laba bersih tahun 2018 untuk pembagian dividen atau senilai Rp 2 per

saham.

Nilai dividen yang dibagikan kepada para pemegang saham tersebut setara 10,2 persen dari perolehan laba bersih perseroan tahun 2018.

"Sisanya sebesar Rp180,9 miliar ditetapkan sebagai laba ditahan dan sebesar Rp2 miliar sebagai cadangan wajib," ungkap Archied dalam keterangan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan di Jakarta, Rabu (16/5/2019).

Archied mengungkapkan bahwa perseroan cukup berhasil mempertahankan kinerja usaha di tengah kondisi pasar properti yang belum kondusif. Perseroan menilai tingkat permintaan pasar terhadap produk properti relatif tidak mengalami pertumbuhan secara signifikan.

"Kondisi sektor properti masih cukup berat dan belum kembali kondusif. Tapi kami percaya peluang tetap ada dengan fokus pada segmen-segmen pengembangan yang memberi ruang untuk menciptakan pertumbuhan usaha," kata Archied.

Di tengah tantangan yang terjadi di industri properti, perseroan pada tahun lalu membukukan pendapatan usaha sebesar Rp2,6 triliun, atau naik sebesar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp2,2 triliun. Laba usaha dan laba bersih tercatat mencapai Rp327 miliar dan Rp203 miliar atau masing-masing mengalami penurunan sebesar 5,2 persen dan 31,6 persen.

"Penurunan kinerja profitabilitas terutama disebabkan oleh menurunnya margin laba kotor dan tingginya beban bunga," ungkap Archied.

Sementara itu pada triwulan I tahun 2019, perseroan berhasil membukukan pendapatan usaha Rp887,6 miliar, atau naik sebesar 25 persen dibanding periode yang sama tahun 2018 yang mencapai Rp709,2 miliar.

Laba usaha dan laba bersih Perseroan tercatat mencapai Rp156 miliar dan Rp48 miliar.

Perseroan melihat tantangan yang dihadapi para pelaku di industri properti tahun ini masih cukup berat. "Dibutuhkan terobosan-terobosan yang efektif untuk mempertahankan kinerja usaha, baik dari aspek strategi ekspansi, manajemen konstruksi, pemasaran dan penjualan, hingga aspek pengelolaan biaya," ujar Archied.

Menghadapi kondisi tersebut, dia bilang, salah satu fokus perseroan adalah terus berupaya mencari terobosan untuk menjaga kinerja penjualan. Perseroan telah menempuh dan menyiapkan sejumlah strategi kunci sebagai upaya untuk mengantisipasi tantangan dan arah perubahan pasar properti.

Salah satu upaya yang ditempuh Perseroan adalah fokus pada pengembangan proyek-proyek yang sedang berjalan. Perseroan berusaha meningkatkan penjualan inventori atau stok unit produk yang terdapat di semua proyek pengembangan.

"Penjualan di tiga bulan pertama tahun ini masih cukup berat dan kami belum merasakan adanya

tren perubahan minat beli dari konsumen dan investor. Tapi kita akan terus berusaha untuk mendorong penjualan lewat berbagai terobosan," ungkap Archied lebih lanjut.

Kondisi ini juga tercermin pada hasil kinerja penjualan perseroan yang diraih di sepanjang triwulan I 2019, dimana perseroan tercatat membukukan pendapatan penjualan (marketing sales) Rp254,2 miliar, atau sekitar 10,2 persen dari target tahun ini sebesar Rp2,5 triliun.

Untuk mengejar target penjualan, ungkap Archied, Perseroan akan memprioritaskan pada penjualan proyek-proyek hunian, baik yang berasal dari pengembangan kawasan perumahan maupun apartemen. Perseroan saat ini memiliki sejumlah pengembangan proyek hunian yang diproyeksikan dapat memberikan kontribusi penjualan cukup signifikan di tahun ini.

"Penjualan dari proyek-proyek residensial, khususnya pengembangan kawasan perumahan masih relatif stabil dan bisa diandalkan. Kalau untuk apartemen, kami akan fokus pada penjualan unit-unit stok," kata Archied. kbc7

Bagikan artikel ini: