DIVA incar jangkau 100 ribu UMKM hingga akhir tahun

Rabu, 22 Mei 2019 | 07:43 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA) menargetkan bisa menjangkau 100.000 usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai mitra bisnisnya sepanjangg tahun 2019. Per kuartal I-2019, DIVA memiliki 21.301 mitra UMKM.

Direktur DIVA Dian Kurniadi Suhardjo mengatakan, perusahaannya akan mengekspansi bisnisnya ke daerah-daerah lain. Pasalnya, UMKM jangkauan DIVA sejauh ini sebesar 60% berada di Pulau Jawa dan 40% di Pulau Sumatra.

Sebagai informasi, DIVA memiliki dua bisnis utama, yakni DIVA Smart Outlet dan DIVA Intelligent Instant Messaging (IM). DIVA Smart Outlet adalah sebuah platform penjualan dalam bentuk PoS (Point of Sales) yang terintegrasi dengan sistem pembayaran dari perbankan dan/atau gerbang pembayaran (payment gateway) yang memfasilitasi UMKM untuk melakukan penjualan berbagai barang dan jasa, baik digital maupun non-digital.

DIVA Smart Outlet dapat diperlakukan sebagai sistem inventori, kasir, dan alat berjualan (sales tools) yang terintergasi dalam satu mesin yang ringkas, ekonomis, aman, dan mudah untuk dibawa.

Sementara itu, DIVA Intelligent IM adalah sebuah platform penjualan via instant messaging terintegrasi dan memiliki kemampuan untuk organisasi keagenan yang berjejaring. DIVA Intelligent IM dapat berjalan di platform instant messaging seperti WhatsApp, Facebook Messenger, Telegram, dan Line.

Layanan ini menggunakan teknologi chatbot dan algoritma kecerdasan buatan. Dengan begitu, DIVA Intellegnt IM memiliki kemampuan untuk membantu UMKM dalam menentukan produk yang dijual, strategi harga, dan prediksi penjualan berdasarkan parameter dari historis, kebiasaan pelanggan, dan parameter lainnya.

Dian mengatakan, dari UMKM yang sudah menjadi mitranya, pengguna DIVA Intelligent IM mendominasi bisnis DIVA, yakni 70%-80. “Sisanya menggunakan DIVA Smart Outlet. Kami punya kriteria baru bagi UMKM untuk bisa pakai itu karena bisa jadi tidak digunakan kalau tidak ada kriteria,” kata dia, Selasa (21/5/2019).

Untuk mengembangkan bisnisnya tahun ini, DIVA menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) Rp 150 miliar. Dana ini bersumber dari penwaran umum perdana saham perdana atau initial public offering (IPO) yang DIVA laksanakan November 2018 lalu. Dari IPO ini, DIVA memperoleh dana segar sebanyak Rp 632,14 miliar.

Capex tahun 2019 tersebut akan digunakan untuk meningkatkan teknologi informasi DIVA, membangun infrastruktur pendukung, dan menyediakan perangkat keras teknologi untuk menampung peningkatan trafik transaksi. “Super-platform instant messaging dibuthkan karena UMKM tambah banyak. Mereka akan banyak transaksi jadi kami tingkatin server,” ucap Dian.

Untuk mencapai target jumlah UMKM tahun ini, DIVA juga akan bekerja sama dengan perusahaan penyedia PoS Pawoon. Menurut Direktur DIVA Stanley Tjiandra, proses kerja sama ini sudah mencapai tahap akhir berupa finalisasi legal dan negosiasi harga final. Ia berharap kerja sama ini bakal diumumkan satu hingga dua bulan ke depan.

Menurut Stanley, kerja sama ini memungkinkan DIVA menjangkau UMKM yang lebih luas. Alasannya, Pawoon telah memiliki sekitar 100.000 UMKM sebagai mitranya. “Mereka kan udah punya teknologi, pelanggan, database, dan infrastuktur. Di sisi lain, UMKM mitra kami yang butuh sistem Pawoon itu bisa pakai teknologi itu,” kata dia.

Perusahaan ini juga akan bekerja sama dengan Telkomsel untuk menjangkau M-Kios yang mencapai 30.000. Kerja sama ini berjalan mulai Maret lalu. Kerja sama ini memungkin DIVA bisa mengkonversi agen-agen M-Kios Telkomsel tersebut untuk menggunakan teknologi DIVA.

Tahun ini, DIVA menargetkan pertumbuhan dua digit, baik dari segi pendapatan maupun laba bersih. Sebagai informasi, per 2018, pendapatan DIVA menurun 12,87% secara tahunan menjadi Rp 1,49 triliun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai Rp 1,71 triliun. Sementara itu, laba bersih DIVA meningkat 4,5 kali lipat menjadi Rp 9,84 miliar dari Rp 2,17 miliar. kbc10

Bagikan artikel ini: