Petani berharap kemitraan jadi persyaratan rekomendasi impor tembakau

Rabu, 22 Mei 2019 | 20:46 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kementerian Pertanian (Kementan) terlibat dalam pengaturan pemasukan impor tembakau ke pasar domestik. Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) berharap regulasi ini dapat sejalan dengan prinsip kemitraan yang dijalankan petani dengan industri.

Ketua Umum Asosiasi  Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno mengatakan Rencana Impor Tembakau (RIT) akan menjadi referensi Kementerian Perdagangan (Kemendag)  mengeluarkan kuota impor tembakau. Karena itu, dia berharap penilaian rekomendasi teknis ini juga mencakup kesanggupan pelaku usaha (importir) menjalankan petani.

Menurut Soeseno rekomendasi teknis Kementan dibutuhkan karena mampu memonitor sebaran lahan dan produksi tembakau di Tanah Air. Informasi ini semestinya dapat menjamin berapa bahan baku yang diterima pabrik rokok.

Dijelaskan ketentuan  kewajiban kemitraan dengan petani tembakau hanya berlaku bagi industri rokok. Soeseno menunjuk aturan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) bawang putih hanya dapat dikeluarkan apabila importir menyanggupi melakukan kewajiban tanam bawang putih di dalam negeri.

Apabila ketentuan kemitraan ini juga dijalani di komoditas tembakau, diyakini harga tembakau petani akan terkerek naik. Saat ini harga tembakau berkisar Rp 70.000- Rp 80.000/kilogram (kg), padahal tiga tahun sebelumnya harga pernah menyentuh di harga Rp 120.000/kg.

”Importir semestinya tidak hanya memikirkan margin usahanya.Mereka juga harus mendampingi petani sehingga menghasilkan tembakau dalam jumlah dan mutu sesuai kebutuhan ,”ujar Soeseno menjawab kabarbisnis.com dalam diskusi Industri Hasil Tembakau sebuah Paradok di Jakarta, Rabu (22/5/2019)

Dia meyakini posisi tawar petani akan terangkat. Menurutnya importir  memiliki jaringan sampai ke pedagang pengumpul yang kerap kali merugikan industri yang menjalin kemitraan bersama petani 

Pada  kesempatan lain, mereka membeli tembakau dengan harga rendah, alasan mutu jelek atau gudang penuh sehingga posisi tawar petani lemah. Dikatakan Kementan telah menggaet sejumlah perguruan tinggi negeri untuk memformulasikan studi kemitraan antara petani dengan dunia usaha . 

Tentunya model kemitraan yang dijalankan tetap memperhatikan kultur dan kearifan lokal.Pasalnya Indonesia menghasilkan beragam varietas tembakau sehingga pola pembinaan baik dari hulu -hilir berbeda.

Menurutnya pembatasan impor tembakau tidak didukung data yang valid. Impor beberapa varian tembakau, termasuk Virginia dan Oriental termasuk yang dibatasi. Padahal, kedua varian ini paling banyak digunakan untuk rokok jenis mild yang paling populer, namun tidak dapat dibudidayakan di dalam negeri.

Menurutnya produksi rokok nasional mencapai 340 miliar batang.Sementara produksi tembakau nasional hanya sebesar 200.000 ton. 

Padahal kebutuhan tembakau mencapai 340.000 ton.Artinya impor tembakau diperlukan untuk mengatasi defisit bahan baku industri rokok nasional.

Bahan baku tembakau petani dicampur tembakau impor .Lima negara menjadi pemasok tembakau ke Tanah Air seperti China, Brasil,Amerika Serikat, India dan Turki.kbc11

Bagikan artikel ini: