Produsen pupuk dolomit asal Gresik ini kejar produksi 1 juta ton

Minggu, 26 Mei 2019 | 20:00 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Mayoritas lahan pertanian terutama di Pulau Jawa sudah dapat dikatakan berada di fase  jenuh akibat penggunaan pupuk kimia secara massif yang berlangsung puluhan tahun lamanya. Sementara, lahan di luar Jawa merupakan rawa Lebak dan lahan pasang surut dengan sifat tanah yang masam.

Data Litbang Kementerian Pertanian menyebutkan potensi lahan sub marginal ini mencapai 34, 4 juta ton.Untuk memperbaiki fungsi hara dan mengembalikan kesuburan tanah dapat ditempuh dengan menggunakan dolomit. Dolomit berasal dari mineral bebatuan yang sudah tertimbun didalam tanah ratusan tahun.Bebatuan ini mengandung Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg).

Chief Marketing Officer PT. Gosari Polowijo Adhie Widiarto mengatakan, zat zat dari kimia ini sangat dibutuhkan tanah yang rusak dan masam.  Dengan diolah bersama asam sulfat , dolomit dapat meningkatkan kesuburan lahan dan menetralkan tanah yang masam.

"Kalau gamping atau kapur yang ada hanya kandungan Ca saja, sedangkan Mg-nya tidak ada," ujar Adhie dalam bincang bincang bersama wartawan di Jakarta, kemarin

Bahkan, melalui penggunaan dolomit sebagai pupuk juga  mampu memproteksi tanaman dari serangan hama wereng. Dalam uji coba di demplot (areal sawah percontohan red) seluas 25.000 hektare (Ha) selama dua tahun tanaman tidak lagi rusak dan puso .

“Padahal sebelumnya menjadi langganan terkena hama wereng. Kalaupun terkena, area yang terdampak sangat sedikit intensitasnya. Ini dikarenakan kekuatan magnesium membuat kalium dan posfor menjadi reaktif membuat batang tanaman  menjadi kuat. Sementara daunnya nampak lebih hijau dan butiran buahnya lebih berisi,” terang Adhie.

Menurutnya kebutuhan pupuk dolomit pada lahan bukaan baru lahan rawa yang belum ditanam membutuhkan 3 ton/ ha. Sedangkan lahan yang belum penah tanam membutuhkan dolomit sebanyak 2 ton/ha.

Penggunaan pupuk dolomit juga membantu berpotensi meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) dari satu kali tanam menjadi dua kali dalam satu tahun. Ini terjadi karena lahan rawa menjadi subur sehingga produktivitas meningkat.

Adhie menambahkan perusahaan berenana meningkatkan produksi dolomit hingga 1 juta ton di tahun 2020 seiring tingginya permintaan di pasar. Saat ini kapasitas produksi pabrik hingga akir tahun sebesar 600.000 ton, naik dua kali lipat dari tahun sebelumnya sebesar 300.000 ton.

Adhie menargetkan di tahun 2020 mampu memproduksi dolomit sebesar 1 juta ton. Atas hal ini, perusahaan membutuhkan investasi Rp 1 triliun yang diantaranya untuk membangun smelter. Sumber pendanaan sebesar 70% dari sindikasi pinjaman perbankan dan sekitar 30 % berasal dari kas perusahaan.

Dengan dolomit dan asam sulfat nantinya akan menghasilkan pupuk kiserit .Diharapkan penggunaan pupuk kiserit dapat mensubtitusi impor kiserit yang setahunnya mencapai 300.000 ton.

Sebagai informasi saja, PT Golosari Polowijo merupakan produsen pupuk berbahan magnesium terintegrasi yang berdomisili di desa Golosari, Kabupaten Gresik , Jawa Timur sejak 40 tahun lalu. Kini produsen tengah fokus menggarap sektor tanaman pangan seiring kebijakan Kementerian Pertanian menggulirkan program Serasi (Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani) yang ditargetkan seluas 500.000 hektare (Ha) .

Selama ini, perusahaan menggarap pupuk di sektor perkebunan (kelapa sawit) dan hortikultura juga sektor perikanan budidaya. Dolomit juga merupakan bahan baku penting yang digunakan semen, industri gelas dan kaca lembaran, aluminium alloy, industri keramik dan porselin dan industri refraktori.

Adapun cadangan terbukti dolomit perusahaan sebesar 500 juta ton dan 300 juta ton berupa cadangan yang masih diteliti . Cadangan itu dalam bentuk gunung dolomit seluas sekitar  700 hektare (ha). “Jika setahun saja produksinya sebanyak 2 juta ton, maka cadangan itu bisa mencapai 250 tahun,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: