Kerap terabaikan, ICA bareng Tim Reaksi Cepat PLN peduli gizi makanan di daerah bencana

Senin, 27 Mei 2019 | 23:32 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Saat bencana melanda sebuah daerah, fokus yang sering dilakukan adalah penanganan korban. Hal itu tidak salah, mengingat korban masyarakat membutuhkan penanganan cepat.

Namun ada pihak yang selama ini kurang disorot, yakni keberadaan para relawan yang dengan rela membantu proses evakuasi korban bencana hingga pemulihan sarana dan infrastruktur di daerah tersebut. Tentu, seperti lazimnya manusia biasa, para relawan membutuhkan asupan makanan bergizi.

Pemenuhan gizi pada korban dan relawan bencana di Indonesia saat ini masih menjadi masalah, baik dari segi jenis makanan maupun higienitas dapur umum. Hal ini terjadi karena sulitnya penyediaan makan secara massal karena korban bencana jumlahnya bisa ribuan bahkan lebih. 

Padahal, para relawan membutuhkan asupan gizi yang semestinya sangat baik, karena pekerjaan mereka sangat berat dan kerap kali melampaui beban kerja di masa normal.

Shanty Dewi Nurhayani, anggota Indonesian Chef Association (ICA) mengatakan, di daerah terdampak bencana, para relawan kerap kali bekerja tak kenal lelah dan tak ingat waktu. Pada titik itu mereka rentan mengalami kelelahan berat.

"Untuk menghindari agar kelelahan itu tidak berubah menjadi sakit, mereka membutuhkan asupan gizi yang seimbang selain tentunya istirahat yang cukup,” katanya yang juga pengusaha katering dengan nama Pawon Basadjan di Garut, Jawa Barat ini.

Meski asupan gizi dari makanan sangat penting bagi para relawan, namun Dewi, sapaannya memaparkan, kerap kali justru aspek tersebut terabaikan. 

“Ketika berada di daerah bencana, memang makanan yang tersedia untuk relawan kondisinya ala kadarnya, yang penting ada. Ini yang kurang baik karena bisa berdampak pada kesehatan para relawan maupun masyarakat korban bencana yang sangat memerlukan makanan bergizi,” jelas Dewi melalui keterangan tertulis, Senin (27/5/2019).

Untuk itu ICA, yang bernaung di bawah Kementerian Pariwisata, anggotanya kerap terjun ke lokasi bencana alam untuk membantu organisasi, baik pemerintah, sosial maupun swasta untuk mengelola dapur umum yang digelar berbagai institusi tersebut.

“Kami memberikan saran panduan menu yang cocok untuk daerah tersebut sesuai dengan selera lokal dengan kandungan gizi yang baik, cara pengolahan dan peralatan yang diperlukan untuk memasak dalam jumlah besar hingga ke manajemen higienitas dapur umum, agar kebersihan dan kesehatan selalu terjaga dari bahan baku hingga makanan jadi,” tuturnya. 

Kerjasama ICA dengan TRC PLN

Dewi memaparkan, salah satu pihak yang kerap bekerja sama dengannya selaku anggota ICA adalah Tim Reaksi Cepat PLN.

Menurut data yang dikutip dari Departemen Corporate Communication & CSR PT PLN (Persero), TRC PLN yang diinisiasi oleh Direksi PLN tersebut, memiliki misi kemanusiaan dalam dua bentuk, yakni melakukan pencarian dan penyelamatan (search and rescue) korban bencana di wilayah berair dan daerah berketinggian, serta penyediaan dapur umum.  

TRC PLN sendiri tugasnya adalah mencari dan mengevakuasi korban bencana. Jika tidak melakukan SAR, maka TRC PLN bertugas men-support makanan untuk tim pemulihan infrastruktur listrik PLN maupun badan koordinator bencana lain, dan juga masyarakat terdampak bencana.

Dewi sendiri sangat kagum dengan TRC PLN. Pasalnya, dalam hal penyediaan dan pengelolaan dapur umum, TRC PLN menyebutkan, pihaknya angkat topi dengan dedikasi TRC PLN dalam menyiapkan dapur umum. Sebab karena TRC PLN selain memiliki tenaga relawan yang sangat berdedikasi dan sepenuh hati membantu korban bencana alam, juga sekaligus tak ragu sedikitpun menggelontorkan bahan pangan terbaik untuk para korban bencana, termasuk untuk tenaga relawan dari berbagai badan pemerintah maupun swasta. 

“TRC PLN benar-benar menginginkan makanan bernutrisi lengkap dan dengan rasa yang sesuai dengan cita rasa lokal daerah tersebut. Ini membuat kami kagum dengan komitmen TRC PLN yang sepenuh hati,” ujar Dewi. 

Dewi masih ingat, pertama kali dirinya berkenalan dengan TRC PLN saat bencana banjir bandang di Garut tahun 2016. Dewi yang saat itu juga tengah berada di kota kelahirannya itu pun, langsung terjun ke daerah bencana. 

Ternyata tanpa diduga ia dihubungi oleh TRC PLN berdasarkan rekomendasi sejawatnya. Setelah bersua dengan TRC PLN, Dewi pun sigap membantu pembukaan dapur umum pertama TRC PLN tersebut. 

Tanpa ragu Dewi memberikan panduan sistem dan SOP dalam pengelolaan dapur umum berkapasitas ribuan paket. Tak hanya jenis peralatan untuk memasak dalam skala besar yang turut disiapkan, namun faktor kebersihan yang tak kalah penting, juga diterapkan dalam pengelolaan dapur umum. 

“Termasuk aliran barang masuk, keluar, lokasi masak, tempat sampah, pembersihan bahan baku dan sebagainya,” ujar Dewi yang kerap dibantu 1-2 orang chef sejawatnya yang juga dari ICA. 

Yang mengagumkan, TRC PLN pun sampai membuat benchmark cita rasa lokal sebelum memasak. “Kalau di Garut karena saya orang Garut, jadi saya paham cita rasa lokalnya. Tapi di daerah lain, setelah Garut, sebelum membuka dapur umum, kami selalu makan di warung makan local. Agar kami paham cita rasa makanan lokal itu seperti apa. Berangkat dari sana, baru kami membuat menu dan resep untuk setiap sajian,” papar Dewi. 

Aspek nutrisi pun wajib terpenuhi di setiap sajian TRC PLN. Dalam sepaket nasi bungkus atau nasi kotak TRC PLN, wajib terdiri dari 3 unsur karbohidrat, sayuran dan protein. “Jadi dalam satu paket sajian TRC PLN harus ada nasi, sayur, ayam atau daging dan tahu atau tempe. Wajib itu, agar kebutuhan nutrisi korban bencana dan tenaga relawan terpenuhi,” ujar Dewi. 

Dewi pun menyebutkan menu yang kerap disajikan TRC PLN yang terus terang nampak cukup ‘mewah’ untuk ukuran daerah bencana. Ekkado alias telur bercampur daging berbalut tepung gurih, sapi lada hitam, balado ikan, ayam seraton, sayur capcay, dan aneka tumisan kerap disajikan TRC PLN. 

Bahkan kala membuka dapur umum di di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, dan Lombok, TRC PLN sampai membeli sapi untuk dijadikan rendang. “Termasuk beras, Kami meminta yang kualitasnya terbaik. Karena makan apapun akan enak jika nasinya enak. Kalau tidak, percuma saja lauknya nikmat tapi nasinya tidak,” jelas Dewi. 

Dengan standar demikian, tak heran saat bencana di Garut, yang notabene pertama kalinya TRC PLN membuka dapur umum, kontan didapuk jadi dapur umum percontohan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Dapur umum TRC juga kerap menjadi rujukan kala pejabat pemerintah daerah dan pusat mendatangi lokasi bencana. 

Adapun ke depannya Dewi menyarankan, agar TRC PLN menyiapkan food truck untuk menampung alat masak yang akan digunakan di dapur umum. Pasalnya, peralatan masak yang dibutuhkan untuk membuat ribuan porsi makanan, tidak sama dengan proses produksi memasak seperti yang biasa dilakukan. 

Mencari bahan dan peralatan memasaknya pun cukup sulit. Karena itu alangkah baiknya jika terdapat sejumlah titik di Indonesia untuk penyimpanan food truck TRC PLN, agar semakin cepat merespon bencana.

“Saya kagum dengan dedikasi karyawan PLN. Saya melihat sendiri mereka tak kenal lelah tanpa mengeluh melayani ribuan orang dari pagi ke pagi lagi. Salut untuk TRC PLN,” puji Dewi. kbc7

Bagikan artikel ini: