Bidik penjualan tumbuh minimal 20%, Integra Indocabinet genjot produksi millwork dan wooden blind

Rabu, 29 Mei 2019 | 07:29 WIB ET

SIDOARJO, kabarbisnis.com: Produsen furnitur berbahan kayu, PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD) optimis kinerjanya akan positif di tahun ini, seiring dengan potensi pasar global serta upaya perseroan dalam menggenjot produksi dan inovasi produk baru.

Direktur Keuangan PT Integra Indocabinet Tbk, Wang Sutrisno mengatakan, sepanjang tahun 2018 lalu pendapatan perseroan tercatat mencapai Rp 2,1 triliun atau naik 21,3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 1,73 triliun.

"Pertumbuhan penjualan perseroan tahun lalu tak terlepas dari permintaan customer yang terus bertambah. Juga ekspansi ritel kami di pasar lokal, selain juga tentu terdorong oleh harga kayu yang tumbuh baik tahun lalu," katanya pada paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan dan Luar Biasa perseroan di Sidoarjo, Selasa (28/5/2019).

Wang bersyukur, kinerja positif yang dibukukan perseroan di tahun lalu masih berlangsung di awal tahun 2019 ini. Mengutip laporan keuangan WOOD di kuartal-I 2019 secara umum pendapatan perseroan tumbuh di atas 5 persen. Penjualan ekspor perseroan tercatat mencapai Rp 433 miliar atau menyumbang 89% pendapatan. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, porsinya 79% atau sekitar Rp 370 miliar.

Sementara itu untuk kontribusi penjualan lokal di tiga bulan pertama 2019 sebanyak 13% dari total revenue, yang meliputi segmen kehutanan Rp 36 miliar, tumbuh 12,5% yoy dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 32 miliar.

Lalu segmen manufaktur sebesar Rp 14 miliar dan perdagangan senilai Rp 9,5 miliar di triwulan pertama tahun ini, satu-satunya yang tercatat turun ialah manufaktur 75% yoy sementara perdagangan tercatat tumbuh 13% yoy.

Sementara itu guna mencapai target pertumbuhan di tahun ini, sejumlah strategi akan dilakukan perseroan. Diantaranya adalah dengan mengandalkan beberapa proyek penambahan fasilitas produksi perseroan, yakni produk tirai kayu atau wooden blind dan furnitur kombinasi kayu dan metal, furnitur rotan, serta millwork. Diproyeksikan fasilitas produksi wooden blind dapat rampung di kuartal-II 2019 ini.

"Nantinya kapasitas produksi untuk millwork akan mencapai 300 kontainer per bulan, namun tahap awal di tahun ini kemungkinan baru berjalan 50 persen. Kami juga akan menambah kapasitas produksi plywood di Lamongan," ujar Wang.

Untuk penambahan produksi ini, menurut Direktur PT Integra Indocabinet Tbk, Widjaja Karli, perseroan telah membangun tiga pabrik di Sidoarjo, masing-masing di Betro, Buduran, dan Gedangan. "Kita menganggarkan capex sebesar Rp 200 miliar terutama untuk pembelian mesin-mesin," ulasnya.

Selain mengeluarkan produk baru dan menambah kapasitas produksi, lanjut Widaja, perseroan juga akan menggenjot pasar ekspor. Dia bilang, memanasnya perang dagang China-Amerika Serikat (AS) semakin memperkuat potensi ekspor perseroan.

"Ancaman pengenaan tarif perang dagang yang meningkat dari 10% kembali ke 25% mengakibatkan penguatan dolar AS hampir ke semua mata uang Asia, termasuk Indonesia. Dan kita punya peluang untuk menggenjot pasokan produk perseroan ke pasar AS. Saat ini banyak buyer Amerika terus berdatangan ke sini (Indonesia)," ujarnya.

Menurut Widjaja, saat ini pesaing produk furniture Indonesia bukan lagi China. Terlebih dengan semakin banyak produk turunan yang dibuat untuk ekspor Indonesia ke luar negeri.

Tahun lalu, dari total penjualan perseroan, sebesar 70 persennya berasal dari pasar ekspor. "Dari jumlah itu, sekiar 40 persennya ekspor ke Amerika. Sisanya baru ke Eropa, China, dan sejumlah negara lainnya," ujarnya.

Dia menyebut, khusus pasar Amerika, pihaknya melayani toko hingga butik furniture yang ada di Negeri Paman Sam. "Kita juga memasok untuk Amazon.com melalui importir," bebernya.

Dia optimis prospek pasar furnitur dunia masih cukup bagus, apalagi perseroan memiliki keunggulan dari segi desain, ragam produk, kualitas, serta telah dikantonginya FSC certified dan SVLK yang menjadi persyaratan utama produk kayu olahan untuk pasar internasional. kbc7

Bagikan artikel ini: