Daya saing RI nangkring di peringkat 32, melesat tertinggi di Asia

Sabtu, 1 Juni 2019 | 08:38 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Peringkat daya saing Indonesia meningkat secara signifikan dari 43 ke 32 pada 2019. Hal ini berdasarkan penilaian pada IMD World Competitiveness Yearbook (WCY). Adapun peningkatan ini tertinggi di kawasan Asia.

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Nufransa Wira Sakti menuturkan, peringkat daya saing Indonesia saat ini berada di atas negara-negara peers seperti India, Filipina, Turki, Afrika Selatan dan Brasil.

Dilihat dari lanskap daya saing berdasarkan penilaian WCY, Indonesia memiliki keunggulan dalam hal ekonomi domestik (peringkat 7), kebijakan perpajakan (peringkat 4), pasar tenaga kerja (peringkat 3), serta tingkah laku dan nilai (peringkat 14).

"Namun, Indonesia masih harus terus melakukan perbaikan pada aspek perdagangan internasional (peringkat 59), kesehatan dan lingkungan (peringkat 58), pendidikan (perngkat 52), dan infrastruktur teknologi (peringkat 49)," ujar dia dalam keterangan tertulis, Jumat (31/5/2019).

Beberapa kriteria yang menunjukkan perbaikan signifikan sehingga berkontribusi pada kenaikan peringkat antara lain plikasi paten, korupsi, biaya listrik industri, keadilan, serta hukum.

Hal tersebut menunjukkan Indonesia mengalami kemajuan yang baik pada berbagai aspek seperti ekonomi, pendidikan dan pengetahuan, serta hukum.

Berdasarkan Executive Opinion Survey yang menjadi salah satu bagian penilaian daya saing WCY, faktor yang dianggap paling menarik dari perekonomian Indonesia adalah ekonomi yang dinamis, perilaku terbuka dan positif masyarakat, serta kebijakan yang stabil dan terprediksi.

Perbaikan peringkat daya saing Indonesia menunjukkan hasil positif dari berbagai reformasi struktural dan ekonomi yang secara konsisten terus dilakukan oleh Pemerintah. Ke depan Pemerintah akan terus melanjutkan komitmen reformasi struktural dalam rangka meningkatkan produktivitas dan daya saing.

"Infrastruktur, kualitas sumber daya manusia, industrialisasi dan kerangka institusi menjadi beberapa aspek menjadi prioritas pembangunan oleh Pemerintah," ujar Nufransa.

Fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga juga menjadi modal penting bagi peningkatan daya saing.

Ekonomi Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan sehat di atas 5 persen, dengan tingkat inflasi yang rendah dan mendukung daya beli masyarakat serta konsumsi. Kualitas pertumbuhan juga terjaga yang ditandai penurunan tingkat pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan.

Sebagai bagian dari instrumen utama Pemerintah, APBN terus diarahkan meningkatkan produktivitas dan daya saing Indonesia seperti melalui pemberian insentif fiskal yang terukur, alokasi belanja yang berkualitas, serta pembiayaan anggaran yang prudent. kbc10

Bagikan artikel ini: