Ekonomi global melambat, target investasi 2020 oleh pemerintah dinilai tak realistis

Senin, 17 Juni 2019 | 07:50 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance atau Indef, Bhima Yudhistira Adhinegara menilai, target investasi yang disebut pemerintahan Jokowi bakal dibutuhkan pada 2020 kurang realistis. Pasalnya, penanaman modal asing atau PMA bakal terganjal perlambatan ekonomi global dan perang dagang. 

Sementara investasi yang berasal dari belanja modal pemerintah, porsinya sulit dinaikkan terlalu tinggi karena rasio pajak makin berat sehingga khawatir defisit anggaran melebar.

Sedangkan, untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) bergantung pada strategi BUMN apakah tetap memacu proyek infrastruktur. Sementara utang BUMN meningkat pesat dan volatilitas makro bisa membuat risiko pendanaan naik.

"Jadi outlook investasi masih lambat. PMTB bisa tumbuh 5-6 persen saja sudah bagus untuk 2020," ujar Bhima akhir pekan lalu.

Bhima menilai pemerintah sebaiknya tidak terlalu overestimate dalam menetapkan target pada APBN 2020. Apalagi, tahun depan ada pemilu di Amerika Serikat (AS) yang berpotensi timbulnya eskalasi baru.

Pasalnya, Presiden AS Donald Trump dikhawatirkan menggunakan trade war sebagai senjata politik. Atas hal tersebut, kondisi bisa saja mengalami eskalasi tidak mereda dalam waktu dekat dan berpengaruh ke keputusan investasi. "Jadi kalau dipasang 5-6 persen, angka PMTB-nya berdasar harga berlaku tahun 2020, berkisar Rp 5.382 triliun," ujarnya.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan bahwa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada 2020 yang dipatok antara 5,3 - 5,6 persen, pemerintah memerlukan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang harus tumbuh di angka 7 persen - 7,4 persen.

Artinya dengan kebutuhan tersebut, PMTB atau investasi yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebanyak Rp 5.802,6 triliun untuk pertumbuhan 5,3 persen dan Rp 5.823,2 triliun untuk pertumbuhan ekonomi 5,6 persen.

Investasi dari sektor swasta atau masyarakat juga menjadi tumpuan dari pencapaian target tersebut. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, kebutuhan PMTB dari sektor swasta sebesar Rp 4.221,3 triliun untuk 5,3 persen dan Rp 4.205,5 triliun.

"Ini yang menggambarkan bahwa untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 5,3 persen hingga 5,6 persen peranan investasi swasta menjadi sangat penting sehingga policy-policy yang berhubungan dengan kebijakan investasi menjadi sangat kunci," kata Sri Mulyani. kbc10

Bagikan artikel ini: