Co-working space ikut dorong penggunaan produk dalam negeri

Rabu, 19 Juni 2019 | 15:52 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Bisnis ruang kerjasama atau co-working space di Tanah Air diyakini akan mampu mengoptimalkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN). Alasannya, co-working space memudahkan generasi muda Indonesia mencari tempat untuk berkarya. 

Produk yang bisa dikembangkan pemuda Indonesia misalnya, komponen ponsel pintar (smartphone). “Bukan hanya perangkat keras (hardware), tetapi juga perangkat lunak (software),” ujar  Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (19/6/2019).

Ia mencontohkan, 200 anak muda Indonesia dilatih untuk mengembangkan perangkat lunak di Apple Developer Academy, yang berada di BSD City, Tangerang, Banten. Ia berharap generasi muda Indonesia lainnya bisa mengembangkan produk serupa ataupun teknologi lainnya. Mereka bisa menggunakan layanan co-working space untuk mengembangkan produknya.

Karena itu, ia mendorong tumbuh kembang bisnis co-working space di Indonesia. Caranya, dengan mengundang investor ataupun perusahaan asing untuk membangun bisnis co-working space di Indonesia. “Contohnya, di Singapura ada Block71, mereka sudah buka di Jakarta. Kemudian, perusahaan telekomunikasi mulai membuat co-working space,” kata dia.

Selain itu, ia mendorong perusahaan asing untuk membuka inkubasi startup di Indonesia. Para pelaku startup pun bisa memanfaatkan co-working space dalam menjalankan bisnisnya.

Ia berharap strategi tersebut dalam jangka panjang bisa meningkatkan penggunaan komponen atau produk lokal. Sebab, komponen smartphone maupun perangkat teknologi lainnya bisa menggunakan produk buatan anak negeri. Dengan begitu, hal ini bisa mengoptimalkan kebijakan terkait TKDN.

Airlangga juga berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait seperti Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi  (Kemenristekdikti) untuk meningkatkan literasi digital. Selain itu, ia bekerja sama dengan MIT, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) untuk melatih Sumber Daya Manusia (SDM) supaya lebih memahami teknologi.

Hal ini dilakukan karena potensi ekonomi digital diperkirakan mencapai US$ 150 miliar pada 2025. “Ini akan menjadi peluang bagi 17 juta tenaga kerja yang tidak buta terhadap teknologi digital. Inilah yang kami dorong agar ekonomi digital terus berkembang, sehingga bisa ditangkap oleh pelaku industri kecil dan menengah (IKM) Indonesia,” pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: