Industri stagnan, Trias Sentosa hanya bidik penjualan tumbuh satu digit

Jum'at, 21 Juni 2019 | 21:15 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Emiten industri film kemasan, PT Trias Sentosa Tbk menargetkan pertumbuhan konservatif di tahun ini. Memanasnya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China serta fluktuasi harga minyak mentah dunia ikut membuat konsumen yang notabene skala industri dinilai memilih wait and see.

Direktur Utama PT Trias Sentosa Tbk, Sugeng Kurniawan mengatakan, melambatnya pasar tersebut sudah dirasakan sejak awal tahun ini, dimana sebagian konsumen menahan pesanan sambil menunggu kondisi pasar membaik. Khususnya konsumen flexible film packaging, terutama di dalam negeri.

Sektor industri flexible packaging juga semakin kompetitif sebagai akibat perdagangan bebas dan kelebihan kapasitas dunia. Hal ini mengakibatkan harga jual film BOPP & BOPET masih terus mengalami tekanan.

"Ini juga berdampak pada kinerja perseroan, dimana sepanjang kuartal I tahun 2019 penjualan perseroan mengalami penurunan sebesar 4,1%, dari Rp 669,9 miliar di kuartal I-2018 menjadi Rp 647 miliar pada kuartal I-2019," jelasnya pada paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan di Surabaya, Jumat (21/6/2019).

Kondisi itu juga berdampak pada penurunan laba tahun berjalan, dimana pada kuartal I tahun 2019 sebesar Rp 10,7 miliar atau turun 12,1 persen dibanding laba pada periode yang sama tahun 2018 yang sebesar Rp 12,2 miliar.

Selain pasar global, lanjut Sugeng, industri di dalam negeri pada awal tahun ini juga dihadapkan pada adanya pesta demokrasi dan menunggu hasil Pilpres.

"Namun demikian, kita berharap kondisinya akan membaik. Dan hingga akhir tahun, perseroan masih optimis tumbuh positif. Dengan target di kisaran satu digit," ujar Sugeng.

Kondisi berbeda dengan capaian sepanjang tahun 2018, dimana perseroan berhasil mencatat penjualan bersih sebesar Rp 2,63 triliun, atau tumbuh sebesar 11,7% dibandingkan realisasi tahun 2017 yang sebesar Rp 2,35 triliun. Laba bersih perseroan pada 2018 juga mengalami peningkatan 65%, menjadi Rp 63,2 miliar.

Menurut Sugeng, pencapaian ini merupakan hasil peningkatan volume dari produk bernilai tambah tinggi. Selain itu, segmen produk komoditas mengalami perbaikan dari sisi volume dan marjin, karena situasi ekonomi dalam negeri yang sempat mengalami ketidakpastian karena pengaruh dari meionjaknya fluktuasi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah, dan kenaikan harga minyak mentah dunia.

"Situasi tersebut membuat customer dalam negeri lebih mengutamakan suplai dari Indonesia, daripada melakukan impor bahan baku film dari China maupun negara lainnya yang dipandang lebih berisiko," ungkapnya.

Pada tahun ini, Sugeng bilang, perseroan akan terus berfokus dalam melakukan pengembangan lebih lanjut pada produk bernilai tambah tinggi, untuk meningkatkan ekspor ke market Jepang dan produk laminasi.

Apalagi, banyak ekspansi usaha dan penambahan kapasitas produksi yang sudah berjalan yang dilakukan perseroan dan ditargetkan akan mulai beroperasi di tahun ini dan awal 2020.

Sekadar diketahui, pada tahun 2017 Perseroan telah membentuk dua perusahaan patungan bersama dengan Toyobo Co.Ltd., suatu perusahaan flexible film terkemuka dari Jepang, yaitu PT Trias Toyobo Astria (TTA) dan PT Toyobo Trias Ecosyar (TTE).

"Untuk TTA nantinya akan memasok produk ke pasar domestik dan ekspor khususnya untuk kebutuhan. Toyobo (film making). Sedang TTE sekitar 95 persen lebih untuk kebutuhan ekspor," ulasnya.

Kedua perusahaan ini direncanakan untuk beroperasi secara komersial pada akhir tahun 2019 mendatang, dan diharapkan memberi kontribusi pertumbuhan bagi Toyobo dan Perseroan.

Sementara pada tahun 2018 yang lalu, Perseroan juga membentuk perusahaan patungan yaitu PT Trias Spunindo Industri (TSI), bersama dengan PT Multi Spunindo Jaya (perusahaan spunbond manufacturing di Indonesia). Perusahaan patungan ini dibuat karena perseroan melihat adanya peluang diversifikasi usaha produk konstruksi, dengan bertujuan untuk memproduksi dan mendistribusikan produk plastik Geotextile pada industri konstruksi.

"Untuk TSI ditargetkan pada awal Januari 2020 nanti sudah mulai produksi," ujar Sugeng yang menyebut saat ini kapasitas produksi perseroan sebesar 70.000 ton per tahun.

Sementara itu Sugeng juga mengungkapkan, bahwa RUPS menyetujui penggunaan laba tahun 2018 untuk menyisihkan Rp 1 miliar sebagai cadangan umum, selanjutnya Rp 14,040 miliar atau Rp 5 per lembar saham akan dibayarkan sebagai dividen tunai dan sisanya sebesar Rp 48,154 miliar untuk dicatat sebagai .laba ditahan yang akan digunakan untuk pembiayaan investasi, operasional Perseroan serta keperluan modal kerja lainnya. kbc7

Bagikan artikel ini: