60 Juta anak ayam digerojok setiap pekan jadi biang anjloknya harga di peternak

Kamis, 27 Juni 2019 | 08:13 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Anjloknya harga ayam daging maupun ayam hidup membuat para peernak ayam ras menjerit. Atas gejolak ini, Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) mengungkap jika adanya kelebihan pasokan menjadi biangnya.

"Ini karena lebih pasok. Menyebabkan harganya seperti ini," Sekretaris Jenderal Gopan Sugeng Wahyudi seperti dikutip, Rabu (26/6/2019).

Kelebihan pasokan di tingkat peternak, kata dia, dikarenakan pasokan bibit atau anak ayam yang juga tinggi. Pasokan yang berlebih alias oversupply menyebabkan produksi berlebih.

Ujung-ujungnya membuat peternak menurunkan harga. Sebab, jika tidak, maka produksi tidak terserap.

"Dimulai dengan anak ayamnya. Persediaan anak ayam itu 60 juta ekor per minggu. Untuk seluruh Indonesia. 62 persen ada di Jawa. Berawal dari situlah tragedi itu muncul. Karena barang banyak, kebutuhan tetap sehingga murah yang terjadi," ujarnya

Harga ayam yang murah ini kemudian berdampak pada timpangnya perbandingan antara harga jual dengan harga pokok produksi (HPP).

"Jadi memang sekarang harga di tingkat kandang itu jauh di bawah biaya pokok produksi. Sekitar Rp 8.000 sampai Rp 10.000 per kilogram. Ayam hidup. Sementara biaya pokok produksi kita Rp 18.500 per kilogram. Artinya luar biasa kerugiannya," urai dia.

Selisih yang signifikan antara harga jual dengan HPP, diakui Sugeng telah membuat peternak tekor cukup banyak.

"Itu bisa Rp 8.500 sampai Rp 10.000. Selisih harga jual sama harga harga pokok produksi. Itu per kilogram. Itu lah makanya kalau di Yogyakarta dan Solo itu ada upaya membagi-bagikan ayam itu wujud dari kejengkelan itu," tegas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: