Pengembang Filipina lirik bisnis properti di Indonesia, SMF siap fasilitasi

Senin, 1 Juli 2019 | 12:30 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Rencana organisasi pengembang perumahan asal Filipina, Organization of Socialized and Economic Housing Developers Inc (OSHDP) untuk melakukan studi banding tentang corak industri pembiayaan perumahan untuk masyarakat di Indonesia langsung ditangkap PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau SMF.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (26-27 Juni 2019) tersebut dilakukan di Tangerang. Kegiatan yang diikuti 56 peserta yang merupakan perwakilan dari OSHDP berupa workshop dengan narasumber Direktur Sekuritisasi dan Pembiayaan SMF Heliantopo serta Vice Chairman of REI (Real Estate Indonesia) Ignesjz Kemalawarta.

Heliantopo mengatakan, kerja sama studi banding ini diharapkan menjadi langkah awal dan dasar bagi kedua belah pihak dalam melakukan kerja sama, penelitian, berbagi informasi dan pengetahuan, yang berkaitan erat dengan pembiayaan perumahan.

Dia menambahkan, selama ini Indonesia dan Filipina melalui SMF dan NHMFC (National Home Mortgage Finance Corporation) telah lama membangun hubungan baik, terlebih lagi kedua lembaga tersebut merupakan anggota ASMMA (Asian Secondary Mortgage Market Association).

Kedua belah pihak sama-sama memiliki peran yang cukup strategis, khususnya sebagai katalis dalam mendukung pengembangan pasar pembiayaan sekunder perumahan untuk mendukung kepemilikan rumah yang layak dan terjangkau bagi masyarakat.

"Pada posisinya SMF sebagai satu-satunya lembaga atau BUMN yang bergerak dalam secondary mortgage selalu siap untuk merajut sinergi dengan berbagai pihak untuk mengakselerasi pengembangan pasar pembiayaan perumahan, khususnya di Indonesia," ucap Heliantopo.

National President of OSHDP Jefferson Bongat mengatakan bahwa studi banding tersebut merupakan bagian dari agenda rutin OSHDP setiap tahunnya.

"Kami mempunyai fokus pada negara-negara dengan bisnis pengembangan hunian untuk publik. Tahun ini kami mengindentifikasi Indonesia merupakan negara dengan pengembangan hunian publik yang menarik untuk dikaji," ujarnya, Sabtu (29/6/2019).

Lebih lanjut Jefferson mengungkapkan, secara khusus pihaknya ingin mengetahui pasar real estate dan perumahan di Jakarta, mulai dari mekanisme keuangan, kebijakan, serta regulasi dan inovasi dalam pengembangan perumahan di Indonesia.

Kepada OSHDP, Direktur Sekuritisasi dan Pembiayaan, Heliantopo, menyampaikan bahwa selama ini, KPR masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam membeli rumah. Masyarakat, imbuh Heliantopo, cenderung memilih metode kredit dibandingkan tunai bertahap dan tunai.

Berdasarkan data Bank Indonesia, selama kuartal I 2019, presentase pemilikan rumah melalui KPR mencapai angka 74,2%, lebih tinggi dibandingkan pemilikan secara tunai bertahap sebesar 17,3%, dan tunai sebesar 8,5%.

Terkait backlog pemilikan rumah, data dari Badan Pusat Statistik pada 2017 menunjukkan, backlog perumahan di Indonesia didominasi oleh backlog kepemilikan ketimbang kepenghunian. Hal tersebut ditunjukkan oleh angka backlog kepemilikan yang mencapai 13,7 juta keluarga dibanding backlog kepenghunian dengan angka 6,4 juta keluarga.

Terkait pembiayaan perumahan di Indonesia, Heliantopo menerangkan penetrasi KPR di Indonesia cenderung masih rendah, dimana rasio KPR terhadap PDB di Indonesia pada 2018 hanya 3%. Angka tersebut jauh lebih rendah dibanding negara lain, seperti Filipina 3,9%, Thailand 22,7%, Malaysia 39,1%, dan Amerika 75,2%. kbc10

Bagikan artikel ini: