Inflasi di Jatim pada Juni 0,13 persen, tarif angkutan jadi pemicu

Senin, 1 Juli 2019 | 17:48 WIB ET
Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Teguh Pramono
Kepala BPS Provinsi Jawa Timur Teguh Pramono

SURABAYA, kabarbisnia.com: Laju Indeks Harga Konsumen atau inflasi di wilayah Jawa Timur lada Juni 2019 tercatat sebesar 0,13 persen. Inflasi Juni 2019 lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun 2018, dimana pada bulan Juni 2018 mengalami inflasi sebesar 0,42 persen. 

"Tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi di bulan Juni 2019 ialah emas perhiasan, angkutan antar kota, dan tarif kereta api," terang Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur Teguh Pramono di Surabaya, Senin (1/7/2019).

Lebih lanjut ia mengatakan, pada bulan Juni harga emas perhiasan menjadi komoditas utama pendorong inflasi disebabkan adanya kenaikan yang drastis dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan harga emas perhiasan ini mengikuti kenaikan harga emas dunia. 

Selain itu sektor transportasi ikut menjadi pendorong terjadinya inflasi akibat kenaikan tarif angkutan antar kota serta kereta api. "Hal ini terjadi karena adanya momen hari raya Idul Fitri dimana melonjaknya pengguna moda transportasi untuk mudik ke kampung halamannya sehingga harganya mengalami kenaikan," tuturnya.

Dari delapan kota yang menjadi acuan, enam kota mengalami inflasi dan dua kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi di Probolinggo yang mencapai 0,48 persen, sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Malang sebesar 0,17 persen..

Apabila dilihat trend musiman setiap bulan Juni selama sepuluh tahun terakhir (2010-2019), seluruhnya terjadi inflasi. Hal ini disebabkan karena pada bulan Juni biasanya bertepatan dengan bulan Ramadhan atau perayaan hari raya Idul Fitri. Bulan Juni 2010 merupakan inflasi tertinggi yaitu sebesar 0,92 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi pada bulan Juni 2019 sebesar 0,13 persen. 

"Pada bulan Juni 2019 dari tujuh kelompok pengeluaran, enam kelompok mengalami inflasi dan satu kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi adalah kelompok Sandang sebesar 0,94 persen, diikuti kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan sebesar 0,49 persen," ujarnya. 

Selanjutnya kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau sebesar 0,31 persen, kelompok Kesehatan sebesar 0,07 persen, kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar sebesar 0,04 persen, dan Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga sebesar 0,03 persen. Sedangkan kelompok yang mengalami deflasi adalah kelompok Bahan Makanan yaitu sebesar 0,48 persen.

Selain komoditas-komoditas pendorong laju inflasi di atas, beberapa komoditas menjadi penghambat terjadinya inflasi di bulan Juni 2019 ini. Tiga komoditas utama yang menghambat terjadinya inflasi ialah bawang putih, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Harga bawang putih mengalami penurunan pada bulan Juni setelah sebelumnya melonjak pada bulan Mei. Kondisi ini membuat bawang putih menjadi komoditas utama penghambat inflasi bulan Juni. 

Komoditas daging ayam ras juga mengalami penurunan yang cukup drastis. Hal ini disebabkan banyaknya pasokan yang ada di pasaran sehingga membuat harganya jatuh. Komoditas telur ayam ras yang pada bulan sebelumnya mengalami kenaikan, pada bulan Juni sudah mengalami penurunan sehingga turut menjadi faktor penghambat inflasi bulan Juni.

"Selain tiga komoditas utama pendorong inflasi di atas, komoditas lain yang juga mendorong terjadinya inflasi bulan Juni ialah cabai merah, kendaraan carter/rental, pir, kacang panjang, daging ayam kampung, kentang, dan kelapa. Sedangkan komoditas lain yang menjadi penghambat inflasi ialah bawang merah, tomat sayur, tarif angkutan udara, telur ayam kampung, makanan ringan/snack, besi beton, dan udang basah," tegas Teguh.

Adapun laju inflasi tahun kalender Jawa Timur di bulan Juni 2019 mencapai 1,16 persen, sedangkan tingkat inflasi tahun ke tahun (Juni 2019 terhadap Juni 2018) mencapai 2,40 persen.kbc6

Bagikan artikel ini: