Produk UMKM masih dikuasai pengepul, ini penyebabnya

Jum'at, 5 Juli 2019 | 08:07 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Produk yang dihasilkan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia dinilai masih dikuasai oleh pengepul, karena lemahnya daya tawar. Para pengepul ini pula yang lebih menikmati keuntungan.

Hal ini diungkapkan Ketua Tim Peneliti Center for Micro and Small Enterprise Dynamics (CEMSED) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Daniel Kameo, saat menjadi pembicara pada acara Diseminasi Penelitian Komoditas/Produk/Jenis Usaha (KPJU) Unggulan UMKM di Wilayah eks Karesidenan Surakarta, di Kantor Bank Indonesia Solo, Kamis (4/7/2019).

"Sebetulnya UMKM kita sebagian besar sudah profesional. Mereka dapat bantuan dari perbankan, bisnis, pemerintah, LSM, dan universitas. Yang kurang adalah kekuatan daya tawar," ujarnya.

Menurut Daniel, para pengepul di masing-masing tingkat hingga pedagang besar mengambil keuntungan. Kendati demikian dia menilai hal tersebut merupakan proses kegiatan pasar yang wajar. Yang tidak wajar menurutnya, adalah siapa kuat dia yang menentukan harga.

"Oleh karena itu kuncinya adalah kekuatan harus berimbang," tandasnya.

Kalau pengepulnya ada 5 dan penjual ada 500, kata dia, yang diuntungkan adalah pengepul. "Seharusnya 5 banding 5 atau 5 banding 1. Produsen bisa memilih harga yang paling bagus, tetapi UMKM harus menggabungkan kekuatan dalam wadah koperasi," katanya.

Dari penelitian yang dilakukannya, sektor UMKM sebetulnya memiliki potensi besar. Seperti contoh penelitiannya pada pembuat gula semut di Kabupaten Banyumas. Pembuat gula semut memiliki risiko kerja yang besar namun penghasilannya sangat rendah.

"Setiap tahun ada yang jatuh, kakinya patah bahkan sampai meninggal dunia. Dia hanya dapat Rp14.000/Kg. Padahal di pasar luar negeri harganya sampai ratusan ribu," jelasnya.

Meskipun sudah dipotong ongkos kirim, pengepul masih memperoleh untung hingga ratusan ribu."Bayangkan kalau dia bergabung dan jual sendiri, hanya bayar ongkos transportasi. Misalnya pendapatan naik dari Rp14.000/Kg jadi Rp50.000 saja, maka ekonomi desa akan meledak. Dia mulai renovasi rumah, anaknya dikirim ke sekolah, toko dan bangunan tiba-tiba hidup," ucapnya.

UMKM mempunyai peran strategis sebagai tulang punggung dan penyelamat perekonomian nasional. Kondisi tersebut dapat dilihat dari 3 sektor. Salah satunya jumlah industrinya yang besar, yaitu 53,8 juta unit atau setara dengan 99,9 persen dari total unit usaha.

Selain itu potensinya yang besar dalam penyerapan tenaga kerja. Yakni mampu menyerap 97,22 persen total angkatan kerja yang bekerja dan kontribusi UMKM dalam pembentukan produk domestik bruto cukup signifikan sebesar 57,12 persen. kbc10

Bagikan artikel ini: