Di Rakerda HIPMI Jatim, Azrul Ananda ungkap rahasia bisnis olahraga

Kamis, 18 Juli 2019 | 10:59 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: CEO Persebaya Azrul Ananda membagi pengalamannya mengelola bisnis olahraga di depan ratusan pengusaha muda yang tergabung di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Jawa Timur dalam forum Rapat Kerja Daerah yang rangkaiannya berakhir Rabu dinihari (17/7/2019).

Azrul memulai ceritanya dengan menggambarkan tentang besarnya prospek industri olahraga di Tanah Air. Pertama, karena bisnis ini adalah bisnis emosi. Bisnis olahraga bergerak bukan semata-mata alasan rasional, tapi juga mengikat perasaan.

”Ekonomi mungkin bisa naik turun, tapi hasrat orang untuk melihat olahraga sangat tinggi. Ibaratnya, meski ada kebutuhan hidup lain, tetap nonton klub kesayangan bermain,” ujar Azrul.

Lalu yang kedua adalah besarnya pasar di Indonesia, dengan penduduk di atas 250 juta jiwa. ”Indonesia punya syarat untuk memajukan industri olahraga. Penduduknya gemar olahraga, jumlahnya pun besar sekali,” ujarnya.

Azrul menambahkan, karena merupakan bisnis emosi, bisnis olahraga harus selalu melibatkan partisipasi publik atau suporter. Tidak ada bisnis olahraga yang bisa berkelanjutan tanpa dukungan suporter.  

”Partisipasi (masyarakat) adalah income, prestasi adalah cost. Kalau partisipasi terus dikembangkan, maka partisipasi akan membiayai prestasi,” ujarnya.

Meski pasarnya sangat prospektif, Azrul menyebut, bisnis olahraga di Indonesia, termasuk sepak bola, belum benar-benar menguntungkan.  Dia lebih suka menyebut bisnis yang berkelanjutan (sustainable) ketimbang bisnis yang menguntungkan.

”Mungkin nanti ketika income per kapita warga Indonesia sudah US$ 5.000 per tahun, bisnis olahraga bisa benar-benar pesat. Karena orang punya ruang untuk leisure, untuk beli tiket pertandingan. Ya katakanlah untuk beli tiket klub sepak bola Rp 100.000 orang itu tidak merasa keberatan. Kalau sekarang kan income per kapita Indonesia baru hampir US$ 4.000 per tahun,” jelas Azrul.

Azrul optimistis ke depan dengan berbagai tantangan, industri olahraga bisa tumbuh pesat. Persebaya, misalnya, Azrul yakin bisa terus tumbuh dengan berbagai inovasi yang dilakukan manajemen meski dia mengakui iklim sepak bola belum sepenuhnya kondusif.

”Social equity Persebaya sangat luar biasa. Laga klub kebanggan arek-arek Suroboyo ini selama Liga 1 2018 di Surabaya ditonton 485.231 penonton tercatat sebagai klub dengan jumlah penonton terbesar di Indonesia,” jelasnya.

Instagram Persebaya, lanjut Azrul, mempunyai 1,2 juta followers, Youtube 258.000 subscribers, dan Twitter 215.000 followers. ”Dalam sebulan pada Juni 2019, penonton Youtube channel resmi Persebaya mencapai 1,67 juta, masuk lima besar jajaran klub-klub di Asia,” ujarnya.

Persebaya juga mempunyao 16 merchandise store, satu-satunya klub dengan jaringan ritel. ”Kami ingin di semua daerah di Jatim ada Persebaya Store, kecuali mungkin di satu daerah khusus,” kata Azrul tersenyum.

Karena bisnis emosi dan butuh partisipasi, lanjut Azrul, pihaknya terus berinovasi melayani Bonek. Misalnya sedang digarap aplikasi Persebaya Selamanya dengan biaya submit hanya Rp 20.000 di mana dananya kembali ke Bonek untuk program-program sosial kemanusiaan.

Sementara itu, Sekretaris HIPMI Jatim Chandra P. Welyanto mengatakan, selama ini, industri olahraga yang dikonsep sebagai bagian industri leisure belum banyak digarap pengusaha muda. Karena industri olahraga lebih banyak dimaknai sebagai industri peralatan olahraga, seperti produksi sepatu, raket, atau bola.

”Oleh karena itu, kami ajak Mas Azrul berbagi pengalaman. Ada best practices manajemen industri olahraga yang bisa kita pelajari, sehingga pengusaha muda kami harapkan tertarik ikut menekuni bisnis olahraga sebagai sektor bisnis dengan potensi besar,” ujar Chandra.

Bagikan artikel ini: