Awas! Aktif di medsos berpotensi picu depresi ketimbang main game

Jum'at, 19 Juli 2019 | 15:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Sebuah studi yang dilakukan para peneliti di Centre Hospitalier Universitaire (CHU) Sainte-Justing, Quebec menemukan bahwa media sosial dan televisi menjadi pendorong depresi pada remaja.

Dilansir dari laman Slash Gear, penelitian tersebut telah melibatkan 4.000 remaja di Kanada. Mereka juga mengungkapkan berapa jam waktu yang mereka habiskan untuk media sosial, menonton TV, bermain video game, dan menggunakan komputer.

Selama studi empat tahun, para peneliti menemukan bahwa beberapa kegiatan digital ini dapat membuat gejala depresi lebih buruk pada remaja.

Media sosial dan menonton TV keduanya dikaitkan dengan gejala depresi yang lebih parah, termasuk merasa tidak berharga, memikirkan kematian, dan memiliki suasana hati yang rendah. Tampaknya peningkatan gejala-gejala ini mengikuti peningkatan waktu yang dihabiskan di media sosial dan menonton TV.

Menurut penelitian gejala media sosial dan menonton televisi lebih parah dari bermain video game dan menggunakan komputer.

Sebagai contoh, menonton atau menelusuri konten yang menyebabkan remaja membandingkan diri mereka dengan orang lain menghasilkan harga diri yang lebih rendah, memperkuat depresi pada remaja yang sudah menderita karenanya.

Ini mungkin menjelaskan mengapa menggunakan komputer dan bermain video game tidak memiliki dampak yang sama pada depresi. Tidak satu pun yang melibatkan aktivitas yang membuat remaja 'takut ketinggalan' atau perasaan tidak aman tentang diri sendiri dibandingkan dengan orang lain. kbc10

Bagikan artikel ini: