BCA guyur kredit Rp565,2 triliun pada semester I

Rabu, 24 Juli 2019 | 22:05 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp565,2 triliun sepanjang semester I-2019. Realisasi ini tumbuh 11,5% (year on year/yoy) dari posisi periode yang sama di tahun sebelumnya yang sebesar Rp481 triliun.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menyatakan, kredit korporasi memberikan porsi terbesar dengan tumbuh 14,6% yoy menjadi Rp219,1 triliun. Kemudian kredit komersial dan UKM tercatat sebesar Rp189,2 triliun atau tumbuh 12,5% yoy.

"Sementara kredit konsumer meningkat 6,4% yoy menjadi Rp152,0 triliun," ungkapnya di Jakarta, Rabu (24/7/2019).

Kredit konsumer tersebut berasal dari kredit beragun properti yang tumbuh 11,2% yoy menjadi Rp90,7 triliun. Sebaliknya, kredit kendaraan bermotor turun 1,5% yoy menjadi Rp48,2 triliun, yang dipengaruhi oleh penurunan pembiayaan kendaraan roda dua.

Sementara itu, saldo outstanding kartu kredit tumbuh 6,0% yoy menjadi Rp13,1 triliun pada Juni 2019. Di periode yang sama, pembiayaan Syariah meningkat 4,3% yoy menjadi Rp4,9 triliun.

Jahja menyatakan, dalam hal penyaluran kredit pihaknya akan lebih berhati-hati, sebab harus memperhitungkan likuiditas. Sebab, dengan adanya penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) sebesar 25 bps ke 6,75% maka berpotensi akan terjadinya penurunan Dana Pihak Ketiga (DPK).

Di samping itu, juga perlu memperhitungkan risiko ketika saat ini juga terdapat beberapa obligasi (bonds) yang mengalami gagal bayar (default).

"Jujur yang sekarang ini berat bukan penyaluran kredit, karena melepas kredit itu mungkin lebih gampang. Tetapi ini memang harus hati-hati sekali. Kita mengetahui beberapa bonds di market itu kelihatannya default. Karena yang butuh kredit pasti banyak, tapi yang betul-betul bisa menggunakan dana secara optimal untuk bisnis dan berkembang, serta bisa mengembalikan, itu yang enggak gampang," jelasnya.

Hingga paruh pertama tahun 2019, BCA mencatatkan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 8,6% yoy menjadi Rp673,9 triliun. Di mana dana murah (CASA) yakni giro dan tabungan tumbuh 5,9% yoy menjadi Rp510,4 triliun, dengan porsi sebesar 75,7% dari total DPK. Sementara dari dana deposito meningkat 18,1% yoy menjadi Rp163,5 triliun.

Adapun untuk rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) dan kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposits ratio/LDR) pada level masing-masing sebesar 23,6% dan 79,0%. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) juga tercatat berada pada level yang dinilai dapat ditoleransi, yakni sebesar 1,4%.

Sedangkan rasio cadangan terhadap kredit bermasalah (loan loss coverage) berada pada level yang memadai sebesar 183,7%. Rasio pengembalian terhadap aset (return on asset/ROA) sebesar 3,7%. kbc10

Bagikan artikel ini: