Siapkan spin off, CIMB Niaga Syariah targetkan aset Rp60 triliun

Jum'at, 26 Juli 2019 | 13:51 WIB ET

JAKARTA - CIMB Niaga Syariah menargetkan aset bisa tembus Rp 60 triliun saat pemisahan dari induk perusahaan, PT CIMB Niaga Tbk. Berbagai persiapan terus dimatangkan untuk pemisahan atau spin off yang ditargetkan paling lambat pertengahan pada tahun 2023 tersebut.

Direktur Syariah Banking CIMB Niaga, Pandji P Djayanegara mengatakan, ada beberapa alasan yang menjadikan CIMB Niaga Syariah siap melakukan spin off pada tahun 2023. Salah satunya, terkait dengan persiapan yang kini terus dilakukan.

"Sebagai bentuk keseriusan menyiapkan diri untuk spin off tersebut, di internal sendiri sekarang sudah dibentuk tim dan sudah menyusun rencana kerja dan akan mulai bekerja pada tahun depan," kata Pandji pada acara Diskusi bersama CIMB Niaga di Surabaya, Kamis, 25/7/2019.

Saat ini, lanjut Pandji, di internal juga sedang dilakukan penyempurnaan aturan main di internal yang merespon draft tentang leveraging yang dibuat Otoritas Jasa Keungan (OJK) dua bulan lalu dan diharapkan akhir tahun ini menjadi peraturan OJK (POJK). Levereging yang dijalankan CIMB Niaga saat ini sudah ter-cover dalam draft leveraging tersebut. Harapannya, dengan penyempurnaan itu pada saat spin off nanti, praktis tidak terlalu ada perubahan di internal.

"Sekarang tinggal bagaimana kita menyempurnakan aturan main di internal, menyiapkan KCS-KCS agar bisa konsisten menjaga SLT yang sudah ada pada waktu mereka dilepas, sehingga servis kepada kastemer akan sama pada saat UUS dan setelah BUS. Lalu, bagaiman caranya kita menyiapkan produk-produk lain yang kita belum ada supaya pada 2023 nanti kita lebih lengkap. Intinya pada waktu spin off nanti, kita memiliki infrastruktur, SLT, customer experice yang sama antara syariah dan konvensional. Kita akan melakukan spin off selambat-lambatnya pertengahan 2023,” kata Pandji.

Pandji menyatakan alasan lain yang menjadikan spin off harus dilakukan pada tahun 2023. Diantaranya, CIMB Niaga Syariah ingin lebih dulu memaksimalkan peraturan atau kebijakan di internal terkait dengan spin off dan memaksimalkan infrastruktur di konvensional serta mencapai pertumbuhan lebih cepat.

"Kita juga ingin aset kita lebih besar lagi dan ini juga yang dulu menjadi salah satu alasan kita menunda spin off. Pada tahun 2018 lalu aset kita masih Rp 30 triliun. Harapan kita aset kita pada saat spin off pada 2023 bisa mencapai Rp 60 triliun," ungkap Pandji.

Menurut Pandji, berkaca dengan pengalaman beberapa bank dengan aset kecil pada saat spin off yang ternyata hanya menjadi beban buat induknya.

"Semakin besar aset yang kita miliki akan semakin berkurang ketegantungan kita dengan induk. Kalau aset kita bisa Rp 60 triliun dan profitability mencapai Rp 2 triliun tentunya akan menguntungkan pemegang saham dan semakin besar pula keuntungan buat grup," tandas Pandji.

Pandji menambahkan, untuk mendorong pertumbuhan, Unit Usaha Syariah (UUS) CIMB Niaga atau CIMB Niaga Syariah terus berinovasi menyediakan produk dan layanan yang mudah diakses oleh nasabah.

"Salah satunya melalui channel digital yang lengkap dengan untuk pembayaran wakaf uang dan wakaf melalui uang. Ini sekaligus wujud peran aktif CIMB Niaga Syariah dalam mendukung kemajuan perekonomian umat," ungkap Pandji.

Bagikan artikel ini: