RI kalah cepat dengan Vietnam ambil peluang di perang dagang

Kamis, 1 Agustus 2019 | 08:20 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China menjadi peluang bagi negara- negara berkembang termasuk Indonesia untuk menggenjot kinerja ekspor. Pasalnya, banyak produk yang dipasok oleh China ke AS dikenai tarif impor.

Hanya saja, Indonesia hingga kini belum mampu mengambil peluang tersebut. Posisi Indonesia untuk memanfaatkan momentum perang dagang justru diambil alih oleh Vietnam.

"Trade war antara Amerika Serikat dan China ini, kalau Indonesia siap, sebenarnya bisa mengambil alih menggantikan ekspor China ke AS, sayangnya posisi itu diambil alih Vietnam," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia ( BI) Rosmaya Hadi, Rabu (31/7/2019).

Sebagai catatan, sejak perang dagang membuat produk impor dari China dikenai tarif, banyak produsen asal China yang memindahkan pusat produksinya ke Vietnam. Data bank investasi asal Jepang Nomura menunjukkan, Vietnam merupakan penerima pesanan terbesar yang dialihkan dari China.

Nilai pesanan yang dialihkan ke Vietnam pada kuartal pertama tahun ini bahkan seara dengan 7,9 persen dari PDB negara Asia Tenggara tersebut.

Adapun Taiwan, yang menduduki posisi kedua sebagai penerima kue perang dagang terbesar hanya mendapatkan limpahan yang setara dengan 2,1 persen dari PDB mereka.

"Karena berbagai hal, kita belum siap menggantikan ekspor yang dilakukan oleh China ke AS," jelas Rosmaya. 

Pada saat yang sama, Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Aida S Budiman menjelaskan, banyak hal yang memengaruhi kalahnya Indonesia melawan Vietnam dalam memanfaatkan momentum perang dagang, salah satunya dari iklim investasi.

"Salah satu problem-nya Indonesia belum bisa meningkatkan kecepatan produksinya untuk bisa setinggi Vietnam," ujar dia.

Walaupun demikian, Aida menegaskan bukan berarti Indonesia tidak memiliki daya saing. Pasalnya, terdapat beberapa produk Indonesia yang tetap lebih unggul jika dibandingkan dengan Vietnam.

"Kita potensi besar di tekstil, kemudian alas kaki, karet, furnitur, kimia organik, dan otomotif untuk spare part-nya," ujar dia. kbc10

Bagikan artikel ini: