Hore! Usaha budidaya udang dan lele dijamin asuransi

Kamis, 1 Agustus 2019 | 17:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kini pembudidaya udang dan lele bisa bernafas lega. Pasalnya kepastian resiko usaha perikanan budidaya yang digelutinya dapat dijamin dengan keikutsertaan mereka dalam asuransi.

Hal ini akan dapat terealisir seiring adanya sinergitas antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang meluncurkan produk Asuransi Usaha Budidaya Udang Komersial dan Asuransi Perikanan Bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK) khusus ikan lele.

Diharapkan kerja sama ini dapat  mendorong kemajuan sektor kelautan dan perikanan sekaligus mensejahterakan para petani di Indonesia. Deputi Komisioner Pengawasan IKNB II OJK Moch Ihsanuddin mengatakan dua asuransi perikanan ini merupakan produk asuransi budidaya pertama kali di Indonesia.

"Orang akan mulai sadar bisnis perikanan risiko cukup tinggi apalagi udang. Kalau para petani gagal maka dapat subsidi nikmatnya gagal panen. Nantinya berharap sifatnya komersil (asuransi) ini dan tidak lagi menggunakan dana pemerintah," ujarnya saat acara Sosialisasi Asuransi Perikanan Bagi Pembudidaya di Jakarta, Rabu (1/8/2019).

Menurutnya pemilihan komoditas ikan lele merupakan upaya OJK dalam mendorong tingkat inklusi keuangan di masyarakat. Mengingat komoditas ini dinilai paling bisa menyentuh semua kalangan masyarakat dan pelaku usaha UMKM.

“Pada intinya, industri asuransi harus berani melakukan penetrasi pasar yang baru, agar seluruh lapisan masyarakat kita dapat memperoleh perlindungan terhadap jiwa dan harta bendanya, serta di sisi lain industri asuransi kita juga akan tumbuh dan berkembang,” jelasnya.

Sementara Produk Asuransi Usaha Budidaya Udang (AUBU) Komersial memberikan perlindungan risiko kepada pembudidaya atas penyakit yang mengakibatkan matinya komoditas udang yang diasuransikan atau kegagalan usaha. Adapun kriteria pembudidaya yang dapat membeli produk AUBU Komersial adalah pembudidaya tradisional, semi intensif, intensif, dan super intensif.

"Harga pertanggungan dari AUBU Komersial dihitung berdasarkan biaya produksi yang dikeluarkan pembudidaya dalam satu siklus budidaya udang. Tarif premi dihitung dari harga pertanggungan dikali tiga persen," jelasnya.

Direktur Jendral Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan Slamet Soebjakto menambahkan program asuransi perikanan ini didukung sepenuhnya oleh Konsorsium Asuransi.

"Dengan adanya Konsorsium menunjukkan banyak perusahaan asuransi yang berminat ikut berperan dalam dunia perikanan, khususnya perikanan budidaya mungkin merupakan hal yang sangat baru bagi dunia asuransi," kata dia.

Dalam pelaksanaannya, Slamet menjelaskan program asuransi perikanan ini tetap melibatkan partisipasi dan dukungan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi serta Kabupaten/Kota, khususnya pelaksanaan APPIK dan mensosialisasikan produk AUBU komersial ini kepada para pelaku usaha budidaya udang. Selain dinas, Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen Perikanan Budidaya dan penyuluh perikanan juga akan dilibatkan khususnya untuk pendampingan teknologi dan manajemen usaha.

"Dengan sinergisitas dan kerja sama semua instansi pemerintah tersebut, diharapkan program AUBU komersial ini dapat berhasil baik, sehingga diharapkan produk asuransi komersial serupa untuk komoditas perikanan budidaya lainnya akan segera hadir mengikuti," ucapnya.

Ke depan, asuransi usaha budidaya ini juga diharapkan pembudidaya akan lebih mudah dalam menjalankan usaha dan mendapatkan akses pembiayaan untuk pengembangan usahanya, sehingga para pembudidaya dapat meningkatkan produktivitas dan memiliki daya saing yang semakin baik dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.kbc11

Bagikan artikel ini: