Pasar apartemen dinilai jenuh, pembeli kembali lirik rumah tapak

Jum'at, 2 Agustus 2019 | 06:45 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku usaha properti menghadapi kenyataan kecenderungan mulai jenuhnya pasar hunian vertikal alias apartemen. Padahal, selama ini segmen yang dibidik oleh pemain ini adalah kalangan milenial yang notabene memprioritaskan kepraktisan dan life style.

Direktur Teknik dan Pengembangan Usaha PT Adhi Persada Properti (APP) Pulung Prahasto mengatakan, belakangan ini para pelaku properti kebanyakan membangun hunian vertikal seperti apartemen lantaran membaca minat pasar. Namun ketika stok mulai banyak, minat pasar berbalik arah.

"Trennya gaya hidup sekarang memaksa orang mencari hunian dekat tempat kerja. Pasar itu ditangkap. Tapi itu ada posisi jenuhnya. Orang berpikir saya ingin punya rumah dulu deh, baru mikirin apartemen," ujarnya di JCC, Jakarta, Kamis (1/8/2019).

Menurut Pulung, ketika pemain properti besar ramai-ramai membangun apartemen pasar rumah tapak dikembangkan oleh pengembang kecil. Rata-rata muncul rumah tipe klaster di daerah pinggiran ibu kota.

Nah pasar kembali galau lantaran segmen milenial yang kembali berpikir ingin memiliki hunian tapak. Tentu hal tersebut tidak terlepas dari budaya ketimuran Indonesia yang memiliki pandangan bahwa harus memiliki rumah di atas tanah.

Ketika pengembang besar melihat peluang itu, mereka kesulitan untuk mendapatkan tanah di wilayah sekitaran Jabodetabek.

"Jadi pasarnya memang lagi galau ini. Sementara pengembang tersangkut pengadaan tanah. Karena seperti di Bogor, Cibinong sudah mulai habis," tambahnya.

Meski begitu, Pulung menilai tren minat rumah tapak akan berlangsung hanya sekitar 10-20 tahun ke depan. Setelah pasarnya jenuh kembali dia yakin hunian vertikal akan kembali diminati.    kbc10

Bagikan artikel ini: