Tiada lagi santri yang tak bisa ngopi, Ponpes Salafiyah pakai gas bumi

Sabtu, 3 Agustus 2019 | 17:51 WIB ET

PASURUAN – Penggunaan gas bumi untuk kebutuhan sehari-hari semakin dirasakan dampak positifnya bagi konsumen. Tidak hanya bagi pelanggan yang memiliki usaha dan rumah tangga saja, tetapi kehadirannya juga disambut baik oleh para santri yang ada di pondok pesantren. 

Seperti misalnya di Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan yang sudah menggunakan jargas sejak awal tahun 2019. Di ponpes yang didirikan KH. Abdul Hamid ini ada sekitar 1.850an santri putra dan putri dari berbagai wilayah di Indonesia yang menimba ilmu agama di sini.

Sehari-harinya mereka memulai kegiatan sejak dini hari untuk melakukan shalat tahajud. ”Di pondok pesantren ini bangun malam itu wajib. Sebelum tahajud, anak-anak biasanya bikin kopi biar tidak ngantuk. Nah, dulu kan di sini pakai gas tabung buat masak airnya, kadang tiba-tiba kehabisan gas, jadinya tidak bisa bikin kopi. Tapi kalau sekarang sudah tidak ada lagi ceritanya gak bisa ngopi karena kehabisan gas,” kata Kepala Pengurus Pondok Pesantren Salafiyah, Pasuruan, Husni Mubaroq ketika ditemui, Kamis (1/8/2019). 

Dikatakan Husni, di pondok yang diperuntukkan bagi santri putra memang tidak ada kegiatan masak memasak dalam jumlah besar. Kompor di dapur biasanya hanya digunakan untuk membuat air bagi yang ingin membuat kopi atau memasak mie instan. Untuk urusan konsumsi bagi santri, koperasi sudah bekerjasama dengan pihak lain yang mengirimkan makanan untuk para santri. Selain itu para santri biasanya juga membeli makanan di sekitar pondok.

Begitu juga di pondok santri putri. Meskipun memiliki banyak santri, namun memasak juga tidak selalu dalam jumlah besar. Hanya dalam waktu-waktu tertentu saja mereka menanak nasi dan memasak lauk. 

Ketika ditanya mengenai awal menggunakan jargas, Husni mengaku pengurus awalnya sempat memiliki kekhawatiran.. ”Awalnya musyawarah dulu karena kami sempat khawatir. Akhirnya beberapa kawan mencari informasi mengenai jargas ini. Katanya enak karena praktis dan aman. Karena dijamin keamanannya, kami percaya,” ujar pria yang sudah 12 tahun tinggal di Ponpes Salafiyah ini. 

Di awal perubahan dari gas tabung ke jargas dikatakan Husni juga tidak ada kesulitan berarti. Bahkan siswa-siswa mengaku lebih nyaman menggunakan jargas ini dibandingkan gas tabunv. Bahkan khusus di pondok putri jika dulunya harus meminta tolong santri putra untuk memasangkan tabung, kini sudah tidak perlu lagi. 

Dengan pemakaian jargas, ia merasakan lebih hemat waktu dan hemat biaya. Hemat waktu karena setiap kali dibutuhkan bisa langsung digunakan. Tidak harus menunggu penggantian gas tabung ketika kehabisan. ”Dulu di santri putra 1 tabung gas 3kg habis sekitar 1 minggu lebih sedikit. Yang di santri putri lebih banyak lagi, satu bulan mungkin bisa habis 3-4 elpiji tabung 3 kg. Memang tidak terlalu banyak karena memang tidak terus menerus masak,” tuturnya. Dengan perhitungan harga gas tabung Rp 18.000, maka dalam satu bulan rata-rata Rp 140.000-Rp 150.000.  

Muzakki salah seorang santri yang dipercaya mengelola dapur pondok putra membenarkan pernyataan tersebut. Sebelum menggunakan jargas, bagian dapur sering kerepotan untuk menukarkan tabung gas yang habis. 

”Dulu pakai gas tabung yang tabung kecil. Repotnya kalau habis, kami harus menukarkan tabung, padahal banyak yang mau pakai. Kalau sekarang gampang, gasnya selalu siap digunakan jadi teman-teman mudah kalau malam-malam mau bikin mie atau ngopi,” ujar santri asal Probolinggo ini. 

Di pondok pesantrren yang terletak di Jl. KH Abdul Hamid, Pasuruan ini santri-santrinya memiliki kegiatan yang cukup padat mulai dari sebelum subuh hingga pukul 22.30. Selain beribadah dan mengaji Al Quran, santri-santrinya juga membaca berbagai kitab serta tetap belajar pelajaran sekolah. 

Sales Area Head Pasuruan PT Perusahaan Gas Negara Tbk, Makki Nuruddin mengatakan, sejak diluncurkan pada Januari 2019 saat ini sudah menjangkau 6.314 pelanggan di seluruh wilayah Kota Pasuruan. Di wilayah tersebut, pelanggan yang sekarang ada memang baru untuk rumah tangga walau tidak menutup kemungkinan ada beberapa diantaranya yang memiliki usaha skala rumah tangga . 

Untuk semakin memasyarakatkan jargas, PGN terus berupaya menyosialisasikan mengenai keamanan dan kemudahan penggunaan jargas. ”Petugas-petugas di lapangan juga kami minta untuk tidak lelah menjawab pertanyaan dari warga. Kadang, kami mengunjungi suatu wilayah untuk pengecekan, namun akhirnya tertahan karena harus menjawab pertanyaan warga karena ada yang masih takut-takut dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Kami berusaha melayani sebaik-baiknya,” tutur Makki.

Bagikan artikel ini: