Ketika daerah-daerah mulai terapkan listrik tenaga surya

Minggu, 4 Agustus 2019 | 13:39 WIB ET

SEMAKIN langkanya bahan bakar fosil mendorong pemerintah untuk berusaha mencari solusi alternatif. ”Sudah saatnya kita beralih dari energi fosil ke Energi Baru Terbarukan (EBT) karena potensinya lebih besar.

Salah satu yang dibidik untuk dikembangkan adalah listrik tenaga surya. Energi ini selain dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Tanah Air, harganya murah, dan bisa dimanfaatkan untuk segala kebutuhan industri dan rumah tangga.

Pemerintah pun saat ini mulai getol menyosialisasikan listrik tenaga surya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan bahkan mendorong masyarakat dan badan usaha untuk memanfaatkan atap bangunan atau gedung dengan memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) rooftop. Menurutnya, penggunaan PLTS bukan hanya sekadar menghemat biaya tenaga listrik namun juga terkait kepedulian terhadap lingkungan.

Jonan bilang, masyarakat seharusnya juga berpikir untuk mendapat sumber energi yang ramah lingkungan. "Cara berpikirnya itu jangan hanya kalau saya pasang ini akan mengurangi tagihan listrik tetapi juga akan membantu penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan," kata Jonan.

Jonan pun berharap agar badan usaha mulai memanfaatkaan PLTS ini. Dia berkata, gedung pemerintahan saja sudah menggunakan listrik atap ini, termasuk rumahnya sendiri.

"Badan usaha dan industri untuk memanfaatkan atap gedung-gedung yang mereka miliki, kan itu penampangnya besar sekali. Istana Merdeka sudah memasang 260 kWp atau 260.000 Watt, Kantor Kementerian ESDM sudah memasang 160 kWp, rumah pribadi saya juga sudah terpasang sebesar 15,4 kWp," tambah Jonan lagi.

Dia menilai, peraturan terkait pemasangan panel surya atap harus mulai digalakkan. Dirinya malah memberikan usulan untuk memberikan sanksi bagi masyarakat yang tidak mengindahkan imbauan pemerintah.

"Kita harus kerja sama dengan PLN untuk berikan sanksi. Misalnya, kalau 5 tahun belum (pasang atap tenaga surya), listriknya diputus," cetusnya.

Tak hanya itu, Jonan juga meminta pemerintah daerah atau Pemda juga berkontribusi untuk meningkatkan pemanfaatan PLTS atap. Contohnya, dengan mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan penggunaan PLTS.

"Misalnya pemerintah daerah bisa keluarkan aturan apabila ada pengajuan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang diatas lahan 200 m2 itu wajib memasang PLTS Atap. Misalnya 60% dari kapasitas listriknya yang dia berlangganan dengan PLN, nah kalau kebijakan ini bisa dilakukan, saya kira bisa jalan," jelas Jonan.

Selain itu, menurut Jonan, pengembangan atap listrik ini juga bisa didorong dengan adanya kerja sama dengan para pengembang.

"Provider PLTS juga bekerjasama dengan REI, misalnya jika membangun rumah baru bisa memasang PLTS pada atapnya, bisa lagi karena harganya masih belum terlalu murah, sebaiknya bekerjasama dengan perbankan jadi satu KPR-nya," saran Jonan.    

Saat ini, dirinya mengakui pemasangan panel surya masih tergolong mahal. Dirinya menuturkan, karga per 1 kWp panel surya mencapai US$1000 atau sama dengan Rp14 juta (asumsi kurs 14.000 per dolar AS).

Namun begitu, dirinya menyebut masyarakat bisa berinvestasi lewat pemasangan panel surya tersebut. Jika ke depan tarif listrik naik, maka hasil hemat dengan panel surya bisa terlihat lebih cepat.

"Ini bisa sebagai investasi. Hasilnya mungkin delapan tahun ke depan, saat tarif listrik sudah berubah," tukasnya.

Berapa sih harganya?

Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap rumah diklaim bisa menghemat listrik PLN hingga 30 persen.

Menurut Director of Technology PT Xurya Daya Indonesia Edwin Widjonarko, kenyataan itu cukup menggiurkan bagi masyarakat atau pelaku usaha yang ingin hemat tagihan listrik PLN tanpa perlu mengorbankan penggunaan listrik.

Sebab sebagian asupan listrik bisa disuplai oleh PLTS yang dipasang di atap rumah atau toko. Lantas berapa biaya yang perlu dikeluarkan untuk instalasi PLTS atap? "Tentu itu tergantung seberapa besar panel surya yang akan dipasang," ujar Edwin.

Dia menyebut, harga 1 kilowatt peak (kWp) panel Surya yakni Rp 14 juta. Bila satu rumah atau toko memasang 10 kWp panel surya, maka harganya mencapai Rp 140 juta. Jumlah 10 kWp panel surya biasanya digunakan oleh para pelaku usaha untuk membantu asupan listrik produksi.

Sementara untuk kepentingan rumah non usaha, biasanya penggunaan panel surya bisa lebih kecil dari 10 kWp sesuai kebutuhan. Dengan begitu biayanya juga akan lebih murah.

"Saat ini untuk yang sudah dipasang paling kecil itu 7 atau 8 kWp. Sementara yang paling besar 250 kWp (untuk gedung atau kantor)," kata Edwin.

Direspon Pemprov DKI dan Bali

Imbauan pemerintah melalui Kementerian ESDM agar masyarakat menggunakan PLTS rupanya langsung ditindaklanjuti Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Pemprov DKI Jakarta akan memasang PLTS Rooftop di seluruh atap gedung milik Pemprov. 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pemasangan PLTS Rooftop ini akan selesai pada tahun 2022 mendatang. 

"Untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, Pemerintah DKI Jakarta akan memasang solar panel di gedung-gedung Pemerintah Daerah, gedung sekolah, gedung olah raga dan fasilitas kesehatan, itu kita akan perbanyak penggunaan solar panel," ujar Anies.

Diperkirakan, dengan pemasangan PLTS ini Pemprov DKI akan mendapatkan daya listrik sebesar 1.000 hingga 2.000 megawatt (MW). Kalau itu semua terbangun dapat menciptakan market untuk panel surya sebesar 400-500 MW. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan Dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM FX Sutijastoto mengungkapkan, bahwa Anies sudah mengeluarkan Instruksi Gubernur No 66 Tahun 2019 untuk merealisasikan pemasangan PLTS.

"Pemerintah DKI Jakarta sudah mengeluarkan Instruksi Gubernur Nomor 66 Tahun 2019 Tentang Percepatan Pelaksanaan Pengendalian Kualitas Udara Jakarta dan memerintahkan semua gedung milik Pemerintah Daerah akan dipasangi PLTS Rooftop," ujar Sutijastoto.

Sebelumnya, Pemprov Bali juga sudah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) yang mencantumkan kewajiban seluruh gedung untuk memanfaatkan 25% dari luasan atapnya dengan PLTS Rooftop. kbc10

Bagikan artikel ini: