Perang dagang kembali memanas, Huawei was-was

Senin, 5 Agustus 2019 | 06:55 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China kembali memanas. Presiden AS Donald Trump lagi-lagi berencana menerapkan tarif baru pada barang-barang China. Tarif yang dikenakan sekitar 10 persen atau senilai 300 miliar dollar AS yang berlaku secara efektif mulai 1 September mendatang.

Hal tersebut dapat mengancam penangguhan hukuman yang dijanjikan AS untuk perusahaan teknologi China, yang tentunya itu kabar buruk bagi Huawei yang sejak bulan Mei berada pada daftar hitam.

"Peningkatan ini meningkatkan risiko Trump mengingkari janjinya untuk menyelamatkan Huawei," kata para analis di Grup Eurasia seperti dikutip, Minggu (4/8/2019).

Hanya saja belum ada pihak yang mengetahui berapa lama lagi Huawei akan masuk ke daftar hitam. Pun dampak yang akan diterima Huawei akan lebih besar dibanding sebelum-sebelumnya atau justru sebaliknya.

Pasalnya untuk sementara ini, Trump tidak menyebut Huawei dalam cuitan di akun twitternya. Tapi, analis memperkirakan tarif akan naik kembali jika Trump mundur dari janjinya mengeluarkan lisensi untuk perusahaan AS yang memasok barangnya ke Huawei.

"Jika Trump mundur dari janji untuk mengeluarkan lisensi untuk pemasok Huawei AS, kemungkinan negosiasi mogok dan tarif yang dikenakan naik," ucap analis.

Huawei pun belum bersedia komentar mengenai tarif baru yang bakal dilayangkan Trump. Tapi perusahaan telah mengakui hal itu sangat merugikan bisnisnya. CEO Huawei Ren Zhengfei mengatakan, penjualan ponsel pintar di luar China sudah anjlok 40 persen sejak tarif dilayangkan.

Ketua Huawei Liang Hua menambahkan, perusahaan memprediksi akan mengalami kesulitan di paruh ke dua tahun ini dan tahun depan. 

"Perusahaan akan terus menghadapi kesulitan pada paruh kedua tahun ini dan tahun depan. Namun bisnis 5G kami adalah pemimpin global yang kuat saat ini. Tapi kampanye AS dapat memperlambat peluncuran 5G global kami," kata Liang Hua.

Untuk menekan imbas tarif Trump, Liang mengatakan, perusahan telah memulihkan beberapa penjualan di luar negeri yang hilang setelah larangan AS berlaku.

"Tetapi jika Trump tidak melonggarkan pembatasan pada perusahaan China, itu dapat menyalakan kembali kekhawatiran konsumen tentang membeli smartphone Huawei dan menciptakan ketidakpastian bagi operator seluler yang menjual perangkat," ujar Liang.

Larangan tersebut yang telah mencegah perusahaan seperti Google memasok sistem operasi Android dan aplikasi populer seperti Gmail dan Google Maps di ponsel keluaran terbaru Huawei.

Tak hanya Huawei, larangan Donald Trump sejatinya juga berdampak pada perusahaan bisnis Amerika. Awal pekan ini, perusahaan chip asal AS seperti Qualcomm dan AMD (AMD) mencatatkan laba penjualan anjlok di kuartal terakhir, tak lain karena mereka tidak bisa menjual chip lagi ke Huawei. kbc10

Bagikan artikel ini: