Tegur kinerja PLN, Presiden desak pemadaman listrik cepat ditangani

Senin, 5 Agustus 2019 | 12:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendatangi Kantor Pusat PT PLN (persero) pada Senin (5/8/2019). Jokowi tiba pukul 9.00 WIB, kemudian disambut jajaran direksi PLN.

Begitu masuk ruang rapat, tanpa basa basi Presiden langsung mengadakan tanya jawab dengan jajaran direksi PLN. Ia bertanya kenapa pemadaman listrik massal di Provisi Jawa Barat, Banten dan DKI Jakartabesar.

Bahkan di wilayah Banten, pemadaman listrik berlangsung lebih kurang hingga 12 jam. Sebagai informasi, pagi ini PLN melakukan pemadaman bergilir di sejumlah titik di tiga provinsi tersebut.

"Dalam sebuah manajemen besar seperti PLN mestinya, menurut saya, ada tata kelola risiko yang dihadapi dengan manajemen besar tentu saja ada contigency plan, ada back up plan. Pertanyaan saya kenapa itu tidak bekerja dengan cepat dan dengan baik," ujar Jokowi.

Kepada Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama PLN Sripeni Inten Cahyani, Jokowi mengingatkan kejadian mati listrik dalam periode panjang di Jawa-Bali seperti Ahad kemarin terakhir kejadian pada 17 tahun silam, alias pada 2002.

Harusnya, sambung Presiden, pengalaman saat itu dapat menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan untuk memperbaiki kinerja.

"Saya tahu ini tidak hanya bisa merusak reputasi PLN namun banyak hal di luar PLN terutama konsumen sangat dirugikan. Pelayanan  transportasi umum sangat berbahaya sekali, MRT misalnya," katanya.

Plt Direktur Utama PLN Sripeni Inten pun menjawab atas nama direksi memohon maaf atas kejadian pemadaman kemarin, dan menjelaskan bahwa Jawa-Bali memiliki dua sistem yakni Utara dan Selatan.

"Totalnya ada 4 sirkuit yang menjadi backbone adalah 500 KV, itu kalau di utara adalah Ungaran dan kemudian Selatan di Kediri. Dua-duanya adalah 500 kV, dua sirkuit ini yang terjadi di Minggu adalah di utara titik jaringan Ungaran-Pemalang ada gangguan. Itu gangguan pertama pada 11.58," jelasnya.

Sripeni juga mengakui ada kelambatan dalam proses tersebut. "Kami akui prosesnya lambat, karena masuk ke Suralaya kembali dan harus distart kemarin. Lalu masuk pembangkit Sagunung untuk stabilkan daya dan tegangan. Posisi sudah cukup lama, jadi prediksi kami bisa bulihkan dalam 4 jam,"

Setelah mendengar penjelasan Plt Dirut PLN, Jokowi kembali mempertanyakan perihal perhitungan dan rencana cadangan yang tidak berjalan. Presiden menganggap PLN tidak memiliki hitungan dan mitigasi risiko sehingga kejadian seperti tahun 2002 berulang kemarin.

"Pertanyaan saya panjang sekali, pertanyaan saya Bapak Ibu ini semua kan orang pintar. Apakah tidak dikalkulasi ada kejadian kita tahu sebelumnya? Artinya jaringan yang ada tidak dihitung dikalkulasi dan betul-betul merugikan kita semuanya," kata Presiden.

Jokowi pun meminta perbaikan secepat-cepatnya, karena masih ada beberapa wilayah yang belum menyala listrinya. "Dan segera tak tersisa kembali dan apa yang menyebabkan peristiwa besar itu jangan sampai kejadian lagi. Itu saja pesan saya," pintanya. kbc11

Bagikan artikel ini: