Menteri Rudiantara sebut kerugian operator seluler akibat blackout capai Rp100 miliar

Selasa, 6 Agustus 2019 | 06:37 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Rudiantara memperkirakan operator seluler mengalami kerugian hingga Rp 100 miliar akibat padamnya listrik di sejumlah wilayah di Jabodetabek dan sebagian Jawa pada Minggu (4/8/2019). Hal ini tak terlepas dari lamanya waktu pemadaman yang mencapai hampir 12 jam.

"Kalau hitung (pendapatan operator seluler) kurang lebih Rp 60-7- triliun satu tahun, dibagi 360 kan, sehari berarti Rp 200 miliar. Rp 200 miliar, kali katakanlah kemarin berapa jam itu, 12 jam. Berarti dikali setengah," kata Rudiantara di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (5/8/2019).

Dipaparkannya, pendapatan kasar itu hanya untuk di wilayah Jabodetabek saja. Kerugian belum dihitung jika pemadaman listrik terjadi di luar wilayah itu.

Gangguan sinyal yang terjadi pada operator seluler ini terjadi akibat tak adanya pasokan listrik ke based transceiver station (BTS). Rudiantara mengatakan BTS di Indonesia kebanyakan masih menggunakan unit power supply (UPS).

"BTS ya memang sebatasnya 3 -4 jam. Begitu listrik PLN mati, dia 3 -4 jam masih bisa berfungsi, setelah itu kan habis," kata Rudiantara.

Rudiantara mengatakan di Jabodetabek dan Jawa Barat terdapat 137 ribu BTS. Dari total itu, jumlah BTS di Jabodetabek yang masih bermasalah ada sekitar 5 ribu, sedangkan di luar Jawa Barat sekitar 700. "Hanya 6 ribuan dari 137 ribu (BTS) yang masih bermasalah," kata Rudiantara.

Selama pemadaman listrik kemarin, jaringan seluler juga ikut terganggu. Hingga saat ini, listrik di daerah Jabodetabek dan Jawa Barat masih belum sepenuhnya stabil. kbc10

Bagikan artikel ini: