Ketika pebisnis ritel menjerit tanggung kerugian Rp200 miliar akibat blackout

Selasa, 6 Agustus 2019 | 06:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kalangan pelaku usaha ritel memperkirakan kerugian material lebih dari Rp 200 miliar akibat terjadinya pemadaman listrik massal atau blakcout yang terjadi di wilayah Jabodetabek dan sebagian Jawa pada Minggu (4/8/2019) lalu.

Perkiraan kerugian tersebut dilakukan pada 82 pusat perbelanjaan dan 2.500 lebih toko ritel modern swa kelola yang ada di kawasan Jakarta.

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Roy Nicolas Mandey menyayangkan pemadaman listrik yang terjadi di wilayah terdampak. Menurutnya, PLN seharusnya memberi informasi terlebih dahulu akan adanya pemadaman listrik.

"PLN seyogyanya memberi pengumuman terlebih dahulu kepada pelaku usaha agar bisa mempersiapkan cara tetap memberi pelayanan maksimal kepada konsumen, dan masyarakat pun tetap bisa mendapat haknya sebagai konsumen," ujar dia seperti ditulis Selasa (6/8/2019).

Dipaparkannya, potensi penjualan menurun lantaran pemadaman terjadi di hari Minggu. Sementara hari tersebut biasanya digunakan masyarakat untuk menghabiskan waktu luangnya di gerai ritel modern atau pusat perbelanjaan.

"Potensi kehilangan penjualan terlihat betul, karena masyarakat akhirnya enggan atau membatalkan keinginan berbelanja nya," ucapnya.

Tak hanya itu, ia menilai biaya operasional ritel modern pun ikut membengkak akibat kejadian ini. Sebab, lanjutnya, beberapa gerai harus menggunakan genset diesel untuk dapat beroperasi.

"Demi kenyamanan konsumen, kami menggunakan genset diesel berbahan bakar solar yang tentu berimbas pada naiknya biaya operasional, dan itu seharusnya tidak perlu kami keluarkan," jelas dia.

Menurut Roy, dampak kejadian ini membuat kenyamanan masyarakat menjadi terganggu. Itu lantaran fasilitas umum yang seharusnya didapatkan oleh masyarakat tidak dapat berfungsi dengan normal. "Contohnya seperti jaringan pembayaran elektronik dan kualitas produk , bisa jadi menurun," sebut dia.

Oleh karenanya, ia berharap, PLN sebagai satu-satunya perusahaan penyalur listrik milik negara bisa bertindak lebih cepat dan tanggap apabila ada gangguan terhadap transmisi dan sistem jaringan kelistrikan.

"Kami setuju bahwa seharusnya PLN mempunyai sistem mumpuni untuk mengantisipasi masalah semacam ini, back up plan yang reaktif terhadap gangguan dan contigency plan yang terencana," pungkasnya. kbc10

Bagikan artikel ini: