Ini solusi agar buah-buahan ekspor tetap segar

Rabu, 7 Agustus 2019 | 19:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah Indonesia terus berkomitmen mendorong ekspor komoditas pertanian salah satunya ada ekspor buah-buahan. Agar buah tersebut dapat diterima pasar di luar negeri, teknologi pascapanen menjadi andalan.

Balai Besar(BB) Litbang Pascapanen Balitbangtan Kementan telah menghasilkan beberapa inovasi untuk meningkatkan umur simpan dari produk buah maupun komoditas hortikultura lainnya. Diantaranya teknologi pelapisan (coating) baik menggunakan lilin ataupun bahan polimer lainnya, teknologi pemasakan buah (ripening).Selain itu teknologi lainnya seperti penekanan lalat buah menggunakan hot water treatment, penggunaan ozon untuk pencucian buah hingga teknologi penyimpanan terkontrol (Modified Atmosphere Storage). 

BB Pascapanen telah melakukan ujicoba lapang sekaligus implementasi berbagai teknologi yang sudah dihasilkan dengan menggandeng mitra yaitu CV Sumber Buah Sae yang merupakan eksportir buah lokal di Kedawung, Cirebon.

Pemilik CV Sumber Buah Sae, yang Hadi mengatakan adanya kerjasama ini beberapa permasalahan yang selama ini menjadi kendala dalam melakukan ekspor buah dapat diatasi.

"Banyak kendala kalau mau ekspor buah, seperti tingginya biaya transportasi karena harus menggunakan pesawat, ini dilakukan karena pendeknya umur simpan. Belum lagi beberapa pembatasan ekspor karena isu lalat buah ataupun serangga lain seperti semut, kutu putih, dan lainnya," beber Hadi di Jakarta, Rabu (7/8/2019)

Hadi mengharapkan adanya teknologi pemeraman (ripening) untuk pasaran buah lokalnya. "Kami memerlukan teknologi yang dapat mengatur waktu proses pemasakan buah. Dengan mengatur waktu kematangan, maka banyaknya buah yang akan dilempar ke pasaran akan terkendali. Jika hal itu dapat dilakukan, maka harga buah di pasaran akan tetap stabil, bahkan saat panen raya," lanjutnya.

BB Pascapanen memiliki teknologi pengaturan pemasakan buah yang siap diujicobakan, baik teknologi untuk memperpanjang umur simpan maupun teknologi ripening. Sehingga, buah mangga akan mampu bertahan hingga 30 hari, manggis akan bertahan sampai 3 minggu, pisang bertahan lebih dari 25 hari dan salak dapat bertahan hingga hampir 4 minggu.

Sementara itu, teknologi ripening yang sudah dihasilkan BB Pascapanen, diharapkan dapat menjawab kebutuhan para eksportir maupun pedagang buah dalam mengatur tingkat kematangan buah yang akan dipasarkan. Karenanya BB Pascapanen akan membantu melengkapi line proses penanganan buah segar seperti mesin pencuci buah, meja peniris, ripening chamber dan coldroom untuk ruang penyimpanan.

Melalui kerjasama ini diharapkan dapat dibangun Model Penanganan Segar Buah Ekspor yang nantinya dapat direplikasi di berbagai lokasi sentra produksi buah-buahan. Kepala BB Pascapanen Prayudi Syamsuri  berharap ke depan kegiatan implementasi teknologi semacam ini sudah menggandeng tidak saja pihak pengguna tetapi juga Direktorat Teknis maupun Pemerintah Daerah, karena merekalah yang nanti akan mereplikasi model tersebut.  

"BB Pascapanen tentunya akan mendukung dari aspek teknologinya," ujar Prayudi seraya menambahkan sehingga akan  ada peningkatan daya saing produk buah Indonesia yang berarti juga akan terjadi peningkatan potensi ekspor yang diperoleh.

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir nilai ekspor buah buahan sepanjang Januari- Oktober 2018 tercatat sebesar US$674,05 juta,atau turun 10,44% dari capaian pada rentang yang sama tahun lalu senilai US$752,64 juta.Penurunan kinerja ekspor buah buahan ini menjadi indikatir bahwa kualitas buah buahan petani yang belum terstandar.Misalnya salak, yang ditolak Karantina negara tujuan karena terserang penyakit lalat buah.kbc11

Bagikan artikel ini: