Optima Prima incar produksi 24 ribu ton besi scrap dari kapal bekas

Jum'at, 9 Agustus 2019 | 07:24 WIB ET

JAKARTA - PT Optima Prima Metal Sinergi (OPMS), perusahaan besi scrap kapal bekas terbesar di Indonesia, selama tahun 2019 menargetkan mampu menjual 24 ribu ton besi scrap hasil pemotongan dari kapal-kapal bekas. Untuk merealisasikan target tersebut OPMS akan terus menambah kontrak pembelian kapal bekas.

Meilyna Widjaja, Direktur Utama OPMS menjelaskan, industri besi scrap kapal bekas memiliki potensi pasar yang sangat besar. Dari sisi bahan baku, sebagai negara maritim Indonesia memiliki ribuan kapal yang usianya sudah sangat tua. Sementara kebutuhan besi scrap juga terus bertumbuh sejalan dengan meningkatnya permintaan besi baja di dalam negeri.

"Untuk memenuhi bahan baku, kami membeli kapal-kapal bekas yang berbobot mulai 1000 - 10 ribu DWT. Setahun kami memotong sebanyak  8- 10 kapal bekas," ujar Meilyna kepada wartawan saat berkunjung ke lokasi pemotongan kapal di Kamal, Madura, Jawa Timur (8/8).

Menurut Meilyna, kapal-kapal bekas yang menjadi target merupakan kapal yang melebihi usia operasional dan tidak bisa di asuransikan lagi. Saat ini usia rata-rata kapal di Indonesia berkisar antara 20 tahun  - 25 tahun. Sementara perusahaan asuransi sudah tidak akan membiayai kapal dengan usia lebih dari 25 tahun. 

Berdasarkan data Indonesian National Shipowners Association (INSA) pada 2016 jumlah kapal di Indonesia mencapai lebih dari 24 ribu. Dari jumlah itu sebanyak 1900 lebih kapal memiliki bobot lebih dari 10 ribu DWT

"Kami memiliki kerjasama dan hubungan baik dengan sejumlah perusahaan pelayaran di Indonesia. Kami optimis dengan didukung manajemen dan SDM yang sudah teruji, bisnis OPMS akan terus tumbuh positif," katanya menambahkan.

Alan Priyambodo, Direktur Keuangan OPMS menjelaskan, bertumbuhnya bisnis manufaktur dan infrastruktur akan mendorong kebutuhan besi dan baja terus meningkat. Sehingga kebutuhan besi scrap juga akan ikut naik signifikan. 

"Di Jawa Timur saja kapasitas produksi pengolahan besi baja sekitar 2,4 juta ton per tahun. Ini menjadi peluang bagi OPMS untuk memasok bahan baku ke perusahaan pengolahan besi baja," jelas Alan.

Bagi perusahaan pengolahan besi baja, penggunaan besi scrap jauh lebih efisien. Selain itu dengan kualitas bahan baku yang lebih terjamin, produksi besi baja yang dihasilkan akan lebih baik. 

"Dengan memasok bahan baku besi scrap ke perusahaan pengolahan besi baja kami juga ikut mengurangi impor. OPMS dengan standar produk yang dimiliki optimis bisa mengoptimalkan peluang bisnis yang sangat besar ini," tutur Meilyna.

Bagikan artikel ini: