Sampah iklan digital incar pengguna ponsel di Indonesia

Jum'at, 9 Agustus 2019 | 07:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Besarnya jumlah pengguna ponsel di Indonesia menjadikan negara ini sebagai pasar empuk bagi para pemasang iklan digital. Bahkan, iklan digital Indonesia merupakan terbesar kedua di Asia-Pasifik.

Di sisi lain, Indonesia juga merupakan negara yang paling terancam sampah digital alias penipuan iklan (ad fraud). Disinyalir, ini disebabkan volume dan pembelanjaan iklan yang tumbuh signifikan.

"Di negara ini, industri yang menjadi target adalah para pengguna terbesar dalam pemasaran digital dan seluler. Industri-industri yang ditargetkan termasuk e-commerce, tekfin, FMCG, dan sektor game," kata Managing Director IAS di Asia Tenggara Laura Quigley di Jakarta, Kamis (8/8/2019).

Terbukti, di sektor global sendiri, pengiklan diperkirakan kehilangan 42 miliar dollar AS karena fraud alias kejahatan tersebut. Di Asia Pasifik, sebanyak 17 juta dollar AS juga hilang sebagai dampak dari penipuan iklan. 

Sayangnya, kata Quigley, hingga kini masih banyak marketer alias pengiklan yang belum menyadari bahwa mereka terdampak ad fraud.

"Hanya 43 persen konsumen yang mengetahui bahaya ad fraud. Sementara berdasarkan survei kami pada semester I 2019, di Indonesia 33 persen pemasar masih rendah pengertiannya terhadap tingkat penipuan periklanan," ujar dia.

Untuk itu, kata Quigley, pengiklan disarankan untuk memilih publisher iklan yang tepercaya dan aman, baik itu iklan programmatic maupun bentuk iklan lainnya.

"Ad fraud akan tetap ada, tidak mungkin hilang sampai di angka 0. Tapi setidaknya cara-cara itu akan meminimalisir adanya ad fraud," pungkas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: