Pupuk sumbang 20-40% produktivitas hasil tanaman pertanian

Minggu, 11 Agustus 2019 | 18:17 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Kebutuhan pangan nasional yang bertambah menyebabkan intensitas tanam serta pengembangan areal pertanian di lahan-lahan yang kurang subur meningkat. 

Sementara di lahan subur pasokan unsur hara tanaman yang semula secara alami dapat dipenuhi oleh tanah berkurang karena hilang terangkut panen. “Pertanian di era modern tidak bisa terlepas dari penambahan unsur hara dari luar alias pemberian pupuk. Solusi paling jitu memang pupuk,” kata Kepala Badan Sumberdaya Manusia Kementerian Pertanian (SDM Kementan) Dedi Nursyamsi sebagaimana dalam keterangan resmi, Minggu (11/8/2019).

Dedi menyampaikan hal tersebut  pada acara Simposium Pupuk yang digelar di sela-sela rangkaian seminar Internasional dan Kongres Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) pada 5—7 Agustus lalu di Bandung.Menurut Dedi hasil penelitian menunjukkan pupuk menyumbang 20-40% dalam meningkatkan produktivitas tanaman pertanian.

Fakta itu mengharuskan lembaga penelitian di lingkungan Kementerian Pertanian berupaya terus menerus menggalang sinergi dengan Badan Usahan Milik Negara (BUMN) penghasil pupuk serta produsen pupuk lainnya. Tujuannya agar hasil penelitian rekayasa formula pupuk dapat diadopsi sektor industri dan dimanfaatkan untuk mendukung Program Kementerian Pertanian dimasa mendatang.“Tanpa sinergi dengan industri, hasil riset hanya menjadi tumpukan kertas belaka,” kata Dedi

Simposium yang dibuka Dedi itu dihadiri 50 peserta dari berbagai kalangan seperti Direktorat Pupuk dan Pestisida, Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perijinan Pertanian (PPVTPP), Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), PT. Petrokimia Gresik, Perguruan Tinggi, Peneliti lingkup Badan Litbang Pertanian.

Selain itu, pertemuan ini juga dihadiri perwakilan dari perkebunan swasta, Asosiasi Produsen Pupuk Indonesia (APPI),  dan  praktisi pupuk lainnya itu menghasilkan poin-poin penting yang menjadi panduan bagi para praktisi pupuk dari hulu ke hilir.

Salah satu poin penting tersebut adalah daya saing produk pupuk Indonesia perlu ditingkatkan melalui peningkatan keragaman produk alias customize produk. Maksudnya membuat produk pupuk sesuai karakteristik lahan seperti sawah, lahan kering, rawa pasangsurut, rawa lebak. 

Pupuk juga harus spesifik komoditi seperti untuk tanaman semusim, tahunan, perkebunan, dan hortikultura. “Satu jenis pupuk tidak mungkin bisa untuk semuanya karena setiap tanaman, setiap lahan, dan setiap musim itu unik,” kata Dedi

Kementan, melalui PPVTPP juga telah menyiapkan perangkat untuk mendukung kebutuhan kualitas pupuk yang beredar di seluruh wilayah Indonesia melalui perangkat pendaftaran pupuk yang akan diedarkan secara komersial di Indonesia secara on-line. “Kementan telah memberikan kemudahan sejak tahun 2014 melalui pendaftaran secara elektronik yang dapat dimonitor secara transparan,” ujar Dwi Setiawan.

Kementan juga telah menyiapkan dasar hukum yang digunakan untuk pendaftaran pupuk dan pembenah tanah di Indonesia seperti Permentan 36 tahun 2017 untuk pupuk an-organik dan Permentan No. 01/2019 untuk Pupuk Organik, Pupuk hayati dan Pembenah Tanah. “Untuk melindungi petani, maka persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah uji mutu dan uji efektivitas sesuai dengan jenis pupuk yang didaftarkan,” kata Dwi Setiawan yang juga menjabat sebagai Kasubdit PPVTP Kementan.

Formula pupuk di masa mendatang perlu disesuaikan dengan kebutuhan spesifik lokasi dan komoditas. Sementara menurut konsultan Kementerian Pertanian, Ir Hari Priyono, MSi, banyak inovasi terkait pupuk sudah dihasilkan tetapi belum sampai ke tahap komersialisasi sehingga membutuhkan kerjasama dengan pihak produsen pupuk. 

"Badan Litbang Pertanian melalui BBSDLP terus memperhalus peta status hara tanah sebagai dasar rekomendasi, selain pengembangan rest kit dan formulasi pupuk," demikian disampaikan Kepala BBSDLP, Dr. Husnain, saat ditanya kesiapan dukungan Badan Litbang Pertanian.

Pembahas utama dalam simposium ini adalah Prof. Bungaran Saragih, Komisaris Pupuk Indonesia Holding, Prof. Nurhajati Hakim  (Universitas Andalas), Dr Achmad Rahman, Dr Rusman Hermawan (Komisaris BPDPKS).  Pembahas terutama memberikan tantangan kepada Balitbangtan dan Produsen Pupuk untuk mencari teknologi yang tepat dan dapat digunakan dalam skala nasional.kbc11

Bagikan artikel ini: