Kemarau panjang, Kementan proyeksi stok beras September masih surplus

Selasa, 13 Agustus 2019 | 11:25 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian ( Kementan) memperkirakan neraca beras Januari-September 2019 masih mengalami surplus beras sebesar 4,64 juta ton.

Dirjen Tanaman Pangan Suwandi kepada wartawan usai rapat dengan pemangku kepentingan di Jakarta, Senin sore (12/82019) menuturkan, produksi padi selama sembilan bulan tahun ini mencapai 46,94 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 26,91 juta ton.Adapun luas panen sebesar 8,99 juta hektare (ha) berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistk (BPS) yang menggunakan kerangka sampe area (KSA).

Sampai bulan Agustus 2019 , luas panen sebesar 1,01 juta ha dibandingkan periode sama tahun 2018 luas areal panen 1,05 juta ha berarti ada penurunan area panen seluas 40.000 ha . Begitupula di bulan September, penurunan area panen diperkirakan sebear 90.000 ha.

Badan Meterolologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan musim kemarau tahun ini diprediksikan lebih panjang dan kering dibandingkan dari tahun sebelumnya akibat fenomena El Nino. Dari analisa BMKG, daerah dengan potensi kekeringan kategori ‘Awas’ antara lain , Jawa Barat, Jawa Tengah , sebagian besar Jawa Timur, Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat.

Meski Suwandi mengakui kemarau panjang tahun 2019 ini menyebabkan banyak sawah mengalami puso, namun fenomena El Nino tahun 2019 ini tidak berpengaruh banyak terhadap neraca beras dalam negeri. Data Kementan sampai Juli 2019, luas lahan yang mengalami puso sampai saat ini telah mencapai 31.000 ha atau 0,32 % dari total luas lahan tanam padi yang tercatat berada di angka 9,46 juta ha.

Pasalnya, mengacu konsumsi beras nasional rerata sebesar 111,58 kg/kapita/tahun maka diperkirakan jumlahnya mencapai 22,28 juta ton maka sampai September mendatang posisi stok beras masih mengalami surplus 4,6 juta ton. Suwandi menambahkan, ketersediaan stok beras domestik tersebut didukung dengan produksi di luar Pulau Jawa dan adanya penanaman varietas padi gogo yang diketahui tahan pada musim kering.

"Stok tidak terganggu insyaallah karena pengamanan kita lebih kencang. Di luar Pulau Jawa kita siasati dengan menanam di daerah rawa seperti di Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan. Kita bahkan punya program menanam padi gogo [varietas tahan musim kering] di lahan bekas padi pada MT 2 [musim tanam kedua] seluas 500.000 ha," pungkasnya.kbc11.

Bagikan artikel ini: