Lifting migas sulit capai target APBN

Selasa, 13 Agustus 2019 | 17:59 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Target lifting minyak dan gas seperti yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2019 diperkirakan sulit tercapai. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan batas kemampuan lifting minyak secara nasional hanya mencapai 755.000 barel per hari (bph).

Jumlah ini di bawah target APBN 2019 sebesar 775.000 bph. Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman mengatakan pihaknya akan mendorong terus Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) untuk mencari sumber migas lain agar lifting dapat terus dikejar sehingga dapat mendekati target.

Kendati begitu menurutmya peluang itu cukup sulit dipenuhi. "Kalau lifting, tercapai sih tidak, 97 persen - 98 persen kami usahakan dari target tahun ini kalau minyak. Kita dorong kejar terus, korek di mana aja. Seperti ExonMobil Banyu Urip masih bisa digenjot juga," kata Fatar di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Sementara lifting gas juga diproyeksi tidak akan mencapai target lantaran rendahnya serapan. Pada tahun ini lifting gas dipatok 7.000 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Salah satu faktor adalah batalnya penyerapan gas PT PLN (Persero) dari 17 kargo LNG (liquid natural gas) menjadi hanya enam kargo.

Meskipun akhirnya PLN berkomitmen akan menyerap lima kargo tambahan, SKK Migas sudah terlanjur memutuskan untuk melakukan penundaan produksi atau menurunkan produksi LNG sebanyak tiga kargo LNG. Selain itu, lanjut Fatar harga LNG di pasar internasional juga memberikan pengaruh karena jika dipaksakan dijual di pasar spot para produsen gas akan menelan kerugian.

"Kalau gas itu kan sudah saya sampaikan, satu karena curtailment drop kargo (11 kargo), harga LNG juga lagi drop juga kan di luar," terang Fatar.

Masalah monetisasi gas menjadi salah satu fokus pembenahan SKK Migas. Integrasi antara produksi dan pengembangan lapangan akan dikejar sehingga komersialisasi gas bisa berjalan lebih optimal. Selain itu, kontrak jual beli gas (Gas Sales Agreement/GSA) juga akan diperbaiki agar para konsumen gas bisa tetap menjaga komitmen penyerapan gasnya.

"Saya mau kejar Integrasi antara porduksi dan pengembangan, serta komersial harus jalan. GSA mana yang tidak jalan, persoalan dimana, kami identifikasi, Kalau tidak bisa diatasi, otomatis enggak bisa produksi. Kalau gas sudah berproduksi tapi tidak ada yang mengambil kan menjadi soal, Kalau minyak sih barang ada, pasti akan ada yang ambil," pungkasnya.kbc11

Bagikan artikel ini: