Ini alasan fintech ilegal tagih pinjaman dengan kasar

Rabu, 14 Agustus 2019 | 07:12 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat telah banyak laporan dari masyarakat terkait ancaman, bully-an dan sebagainya oleh para penagih (debt collector) pinjaman online alias financial technology (fintech) ilegal. Ternyata, ada alasan tersendiri mengapa penagih ittu melakukan hal demikian.

Hal itu diungkapkan Direktur Kebijakan Publik Asosiasi Fintech Indonesia atau Aftech Ajisatria Suleiman di Gedung Satria Tower, Jakarta, Selasa (13/8/2019). "Saya sempat ngobrol dengan fintech-fintech ilegal ini. Saya tanya ke mereka, kenapa harus agresif itu?," ungkapnya.

Menurutnya, salah satu hal karena para peminjam di fintech ilegal itu nilainya kecil. Nilai pinjaman konsumen fintech ilegal kecil kisaran Rp 500 ribu, hingga paling besar Rp 2 juta.

Berbeda dengan bank atau di lembaga pinjaman keuangan lainnya yang nilai pinjaman peminjamnya besar. Jika jumlah utang besar, kata dia, lembaga pinjaman ada justifikasi untuk mengirim orang menagih.

Ajisatria juga mengatakan biaya untuk mengirim orang mengetok rumah peminjam dan menagih sudah habis sekitar Rp 200 ribu per orang. Dan, kata dia, itu juga belum tentu dapat duit yang ditagih.

"Jadi satu-satunya cara mereka adalah dengan telepon. Mereka all out mati-matian nelpon dengan segala macam bahasa kekerasan yang kemudian disampaikan," ujarnya.

Hingga 7 Agustus 2019, OJK mencatat total jumlah penyelenggara fintech terdaftar dan berizin adalah sebanyak 127 perusahaan.

"OJK mengimbau masyarakat untuk menggunakan jasa penyelenggaran fintech peer to peer lending yang sudah terdaftar/berizin dari OJK," tulis dalam situs resmi OJK, Selasa (13/8/2019).

Adapun dari jumlah tersebut, terdapat penambahan 15 penyelenggara fintech terdaftar. 15 fintech tersebut, yaitu, qazwa.id, bsalam, onehope, LadangModal, Dhanapala, Restock, Solusiku, pinjamdisini, AdaPundi, Tree+, Assetkita, Edufund, Finanku, Tunasaku, dan Uatas. kbc10

Bagikan artikel ini: