Nanoteknologi jadi flagship riset pertanian

Rabu, 14 Agustus 2019 | 07:22 WIB ET
Sekretaris Balitbangtan Kementan Prama Yufdi
Sekretaris Balitbangtan Kementan Prama Yufdi

BOGOR, kabarbisnis.com: Balitbangtan Kementan terus mendorong pengembangan nanoteknologi untuk pangan dan pertanian. Nanoteknologi diyakini dapat menjadi salah satu terobosan solusi pembangunan pangan dan pertanian ke depan.

Untuk itu, nanoteknologi akan diangkat menjadi salah satu flagship (ungggulan) riset Balitbangtan. Sekretaris Balitbangtan Kementan Prama Yufdi ketika membacakan sambutan Kepala Balitbangtan menuturkan semua kegiatan nanoteknologi Balitbangtan akan dilakukan secara terintegrasi dan sinergi antar unit kerja, dimana BB Pascapanen menjadi koordinatornya. 

"Diharapkan hasil penelitian tersebut akan mendukung program Balitbangtan maupun Kementan, tidak lagi penelitian kecil kecil yang hanya menjadi output UPT/UK," ujar Prama dalam Workshop on Recent Advances and Future Perspective in Nanotechnology for Food And Agriculture di Bogor, Selasa (13/8/2019).

Pada tahun 2014, Balitbangtan telah membangun laboratorium nanoteknologi untuk pangan dan pertanian. Sejak kurun waktu tersebut Balitbangtan telah menghasilkan sejumlah produk nanoteknologi yang diterapkan pada aspek hulu-hilir pertanian dan pangan.

Di sektor hulu pertanian, salah satu produk nano yang saat ini menjadi unggulan Balitbangtan yaitu nanobiosilika cair, nanobiopestisida cair, nanobiopestisida serbuk. Produk lainnya seperti nanozeolit dan nanocoating yang dapat diterapkan untuk meningkatkan umur simpan buah, seperti pada pisang, mangga, manggis, dan salak, hingga lebih dari tiga minggu. 

Teknologi ini dapat dimplementasikan pada buah-buahan untuk tujuan ekspor.Di bidang peternakan, menghasilkan produk nano pakan (Nano-Zn-Fitogenik) sebagai pemacu pertumbuhan dan imunostimulan pada ternak ayam pedaging. 

"Kemudian, produk nanohormon (prostaglandin) untuk penyerentakan birahi pada sapi mendukung program swasembada daging Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB)," terangnya.

Di bidang pangan, untuk mendukung pembangunan pangan dan pertanian berkelanjutan, Balitbangtan juga telah mengembangkan produk kemasan ramah lingkungan berbasis nanoselulosa dari limbah biomassa pertanian. Balitbangtan juga melakukan riset dan pengembangan produk nano-vitamin dan mineral, yang sangat potensial diterapkan pada proses fortifikasi pangan, diantaranya untuk menurunkan prevalensi stunting.

Kepala BB Pascapanen Prayudi Syamsuri mengatakan salah satu teknologi masa depan yang dianggap mampu menjawab berbagai permasalahan dan tantangan di bidang pembangunan pertanian yaitu nanoteknologi. Nano teknologi atau teknologi nano merupakan teknologi yang menggarap/merekayasa produk dengan bahan baku partikel berukuran 1/1.000.000 mm. 

Teknologi nano mampu mengontrol zat, material dan sistem pada skala nano sehingga menghasilkan fungsi baru yang belum pernah ada. Teknologi nano ini semakin berkembang di berbagai bidang keilmuan, semisal di dunia komputer, dunia obat-obatan/kedokteran, konstruksi (nano baja), dan tentunya tidak ketinggalan pemanfaatannya di bidang pertanian.

"Pengembangan nanoteknologi di Kementan tidak hanya diperuntukkan untuk peneliti di BB Pascapanen semata. Kami sangat mengharapkan adanya sinergitas dengan berbagai Lembaga penelitian dalam dan luar negeri, termasuk dengan unit kerja di litbang Pertanian. Pemanfaatan peralatan lab yang ada, masih bisa dioptimalkan melalui kerjasama penelitian, karena biaya penelitian kami sendiri masih terbatas. Selanjutnya, kami juga siap bekerjasama dengan pihak industri agar inovasi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat," pungkasnya 

Sebagai informasi,workshop ini diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (HAKTEKNAS) yang ditetapkan setiap tanggal 10 Agustus sesuai Keputusan Presiden RI Nomor 17 Tahun 1995, sekaligus menyambut HUT Kemerdekaan ke-74 RI serta 45 tahun Balitbangtan.kbc11

Bagikan artikel ini: