Pengembangan mobil listrik lancar, ini yang dikhawatirkan Pertamina

Kamis, 15 Agustus 2019 | 18:47 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah tengah mematangkan regulasi terkait pengembangan mobil listrik di Tanah Air. Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) mewaspadai dampak negatif perkembangan mobil listrik pada bisnis perseroan. 

Alasannya, jika berjalan dengan sukses, keberadaan mobil listrik akan mempengaruhi penjualan minyak Pertamina. 

"Dalam situasi disrupsi ini Pertamina tetap waspada," ungkap Direktur Pemasaran Retail Pertamina Mas'ud Khamid, Kamis (15/9/2019).

Dikatakannya, dampak negatif keberadaan mobil listrik terhadap jumlah pembelian minyak sudah terlihat di China. Penjualan minyak di Negeri Tirai Bambu stagnan beberapa waktu terakhir akibat mobil listrik.

"Tren di China luar biasa dahsyatnya, bahkan penjualan minyak di sana tidak tumbuh," ucapnya. 

Saat ini jumlah kendaraan listrik di China tercatat sebanyak 2,7 juta unit. Mas'ud memperkirakan jumlahnya akan terus meningkat dalam waktu mendatang.

"Trennya terus naik dari 4,7 juta unit kendaraan listrik di dunia, China sekitar 2,7 juta unit. China dengan Indonesia tidak jauh," jelasnya. 

Oleh karena itu, Pertamina tak menutup kemungkinan untuk memperbanyak Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU). Dengan demikian, perusahaan memiliki beberapa sumber pemasukan.

"Kami tergantung regulasi, kami kan punya SPLU di Kuningan," imbuhnya.

Diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendukung pengembangan mobil listrik di dalam negeri. Beberapa waktu lalu, ia sudah menandatangani peraturan presiden (perpres) tentang percepatan pengembangan kendaraan bermotor listrik (mobil listrik).

Dengan beleid itu, Jokowi mengatakan pemerintah ingin mendorong industri otomotif, dengan membangun industri mobil listrik di Indonesia. "Kami ingin mendorong agar industri otomotif mau segera merancang, mempersiapkan untuk, ya membangun industri mobil listrik di Indonesia," pungkas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: