ITS peringkat 4 terbaik perguruan tinggi di Indonesia

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 07:12 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai perguruan tinggi berbadan hukum (PTN-BH) terbaik di Indonesia, berhasil menempati peringkat ke-4 Perguruan Tinggi (PT) terbaik tahun 2019 versi klasterisasi oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Dengan capaian nilai total sebesar 3.462, ITS akhirnya dapat masuk pada jajaran empat besar perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Sedangkan untuk posisi pertama ditempati Institut Teknologi Bandung (ITB), posisi kedua diisi Universitas Gadjah Mada (UGM), dan ketiga oleh Institut Pertanian Bogor (IPB). Sementara Universitas Indonesia (UI) kali ini berada di bawah ITS, yakni di posisi kelima. 

Rektor ITS Prof Dr Ir Mochamad Ashari MEng mengakui, terdapat lima aspek dalam penilaian pemeringkatan perguruan tinggi di bawah naungan Kemenristekdikti tersebut. Lima aspek itu adalah, aspek kualitas sumber daya manusia (SDM), aspek kualitas kelembagaan, aspek kualitas kegiatan mahasiswa, aspek kualitas dan pengabdian pada masyarakat, dan terakhir adalah aspek kualitas inovasi.

“Capaian ini merupakan kerja keras dari semua sivitas akademika ITS, baik dosen, staf ataupun mahasiswa semuanya berkontribusi, dan kami sangat bersyukur atas raihan (prestasi, red) ini,” tutur Ashari melalui keterangan tertulisnya, Jumat (16/8/2019).

Menurut Ashari, untuk kualitas kelima aspek tersebut, ITS sebenarnya sudah tidak diragukan lagi. Kualitas SDM ITS terbukti telah menghasilkan banyak lulusan yang berkualitas dan tokoh-tokoh negeri ini juga banyak berasal dari ITS, sebut saja yang terdekat adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Sedangkan dari aspek kelembagaan, pada April lalu ITS mendapatkan penghargaan dari Kemenristekdikti sebagai PTN-BH terbaik pertama di Indonesia. 

Ashari menjeklaskan, pada aspek kegiatan mahasiswa dan kualitas dan pengabdian masyarakat, ITS sendiri selalu mendukung penuh atas seluruh kegiatan mahasiswanya. Sehingga prestasi-prestasi gemilang dapat ditorehkan untuk ITS sendiri maupun Indonesia di kancah internasional. Sedangkan pengabdian masyarakat, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh perguruan tinggi untuk melakukan poin ketiga dari Tridharma perguruan tinggi ini. 

Riset-riset berbasis kepada pengabdian masyarakat juga telah banyak dilakukan oleh ITS. “Begitu juga untuk mahasiswa di ITS yang terdapat kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) yang tujuannya adalah untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat secara langsung,” ungkap guru besar Teknik Elektro ITS ini. 

Ashari menyampaikan bahwa ITS juga telah banyak membantu pemerintah dalam menjalankan program-programnya yang terkait guna memberikan layanan yang maksimal untuk masyarkat. Salah satunya adalah di berbagai daerah di Indonesia, ITS telah diajak kerja sama oleh pemerintah daerah untuk bisa mengembangkan dan menerapkan smart city di daerah-daerah tersebut.

“Jika soal inovasi, menurut saya, ITS tidak bisa diragukan lagi. Kita (ITS,red) selalu melakukan terobosan-terobosan terbaru untuk menghasilkan inovasi yang bisa berguna untuk bangsa dan negara ini,” tandas pria berkacamata ini. Seperti yang sudah diketahui, pada 2017 lalu ITS juga dinobatkan oleh Kemenristekdikti sebagai perguruan tinggi paling inovatif.

Namun, menurut Ashari, yang harus ditingkatkan lagi adalah faktor manajemen pengelolaan data dan penyampaian data kelima aspek ini. Semua aspek dilakukan upaya perbaikan dan peningkatan, terutama yang pertama dari SDM. 

SDM ini, papar Ashari, hitungannya jumlah Lektor Kepala dan Guru Besar dibagi semua dosen. Jumlah dosen yang berpendidikan S3 dibagi semua dosen. Kenyataannya, saat ini dosen di ITS sudah 45 persen menyandang gelar S3. Selain itu, Lektor Kepala dan Guru Besarnya juga cukup banyak. 

“Tetapi data-data yang di Jakarta (Kemenristekdikti, red) masih banyak yang belum di-update, sehingga kita (ITS, red) terus lakukan updating dan perbaikan serta penyajian data terbaik,” beber dosen yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Jurusan Teknik Elektro ITS tersebut.

Ashari juga menjelaskan, akan jadi percuma jika prestasi banyak tapi tidak dikelola dengan baik pendataannya dan tidak terlaporkan, sehingga hal itu tidak akan tersampaikan kepada masyarakat. “Jadi terima kasih untuk semua pihak internal ITS yang sudah bahu-membahu dalam beberapa bulan terakhir ini untuk memperbaiki pengelolaan data dan kinerja,” ucapnya.

Ia juga menuturkan adanya kendala yang muncul dalam beberapa poin penilaian pada klasterisasi ini. Sistem perhitungannya adalah berdasarkan jumlah, bukan persentase. Sedangkan jumlah kuantitas dosen dan mahasiswa di ITS termasuk kecil dibandingkan jumlah dosen dan mahasiswa di beberapa perguruan tinggi yang peringkatnya di atas ITS. 

Misalkan, Ashari mencontohkan dalam hal jumlah publikasi internasional. “Dosen ITS itu jumlahnya di bawah seribu dan harus bersaing dengan kampus yang jumlah dosennya, misal 2.500, itu yang agak susah, namun tetap kita terus berupaya melakukan yang terbaik,” ujarnya optimis.

Ashari mengingatkan, pemeringkatan ini hanyalah bonus yang didapatkan ITS untuk hasil kerja keras segenap elemen di dalamnya yang selalu mengupayakan yang terbaik untuk kemajuan institusi secara keseluruhan. Kinerja di ITS bukan didasarkan atas target pemeringkatan, namun ITS terus mengupayakan yang terbaik di segala aspek. 

Ashari menegaskan, ITS akan terus siap berkontribusi yang terbaik bagi bangsa dan negara ini sebagai lembaga pendidikan. Tujuan yang harus dikejar adalah memaksimalkan potensi-potensi yang ada di ITS. “Agar ke depan, ITS dapat lebih memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia dan mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional,” pungkasnya. kbc7

Bagikan artikel ini: