Sajikan adu cepat perahu kayu, Festival Pacu Jalur 2019 bidik 2 rekor Muri

Minggu, 18 Agustus 2019 | 08:37 WIB ET

KUANSING – Kemeriahan akan disajikan Festival Pacu Jalur 2019. Event ini tidak hanya mengajak peserta adu cepat perahu kayu alias jalur. Tetapi juga akan memecahkan 2 rekor Muri. Festival Pacu Jalur 2019 digelar 21-25 Agustus 2019. Lokasinya di Tepian Narosa Telukkuantan, Kuansing, Riau. 

“Festival Pacu Jalur tahun ini digelar lebih meriah. Ada banyak sekali keramaian yang bisa dinikmati wisatawan. Ada agenda pemecahan rekor Muri yang sangat menarik. Momentumnya juga ideal karena masih dalam suasana pesta HUT ke-74 RI. Mari bergabung di Festival Pacu Jalur,” ungkap Wakil Bupati Kuansing H Halim, Sabtu (17/8).

Agenda pemecahan rekor Muri akan digelar Rabu (21/8). Rekor Muri  yang dibidik adalah peserta Pacu Jalur terbanyak. Untuk mendapatkan banyak peserta, seleksi dilakukan. Ada 4 rayon seleksinya, seperti Kuantan Hilir, Pangean, Gunung Toar, dan Sentajo Raya.

“Festival Pacu Jalur selalu dinanti karena keunikannya. Selain nuansa sport tourism, event tersebut kaya dengan beragam warna budaya. Kombinasi ini menjadikan Festival Pacu Jalur selalu ramai dikunjungi wisatawan. Apalagi, sekarang ada pemecahan rekor Muri. Agenda bersejarah tersebut menaikan value festival,” terang Ketua Tim Pelaksana CoE Kemenpar Esthy Reko Astuty.

Lomba pacu jalur sangat menarik. Saru buah Jalur berisi sekitar 50-60 orang. Tergantung kepada panjang perahu. Dalam setiap Jalur, ada beberapa peran dan fungsi yang dijalankan. Anggota Jalur atau Anak Pacu terdiri Tukang Kayu, Tukang Concang (komandan tim), dan Tukang Pinggang (juru mudi). Ada juga Tukang Onjai (pemberi irama dengan alat musik) dan Tukang Tari (pemberi keseimbangan).

“Kuansing merupakan destinasi menarik, apalagi ada Festival Pacu Jalur. Selain budayanya, alam di sana sangat eksotis. Kombinasi tersebut tentu menjadi experience luar biasa. Kami merekomendasikan event ini sebagai destinasi berlibur menarik. Wisatawan bisa membawa serta seluruh anggota keluarganya,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani.

Selain jumlah peserta Pacu Jalur, rekor Muri juga dibidik dari Tari Randai. Secara etimologi, Randai bisa diartikan berandai-andai. Tarian tersebut hakikatnya seni teater rakyat Kuansing. Pada 2016, pertunjukan seni ini masuk daftar Warisan Budaya Tak Benda. Dalam pertunjukannya, seni Randai menampilkan cerita dalam sebuah narasi atau kisah.

“Budaya, alam, dan manmade sangat seimbang di Kuansing. Destinasi ini selalu menarik kunjungan wisatawan. Apalagi, saat Festival Pacu Jalur digulirkan. Event tersebut selalu menawarkan pesonanya melalui beragam konten menariknya,” tegas Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati.

Tari Randai diperkuat dengan dialog, dan musik. Beberapa cerita yang familiar diangkat adalah suasana gembira, ceria, dan suka cita. Menjadi semakin menarik, Tari Randai dibawakan kolosal. Pada sebuah pertunjuan, Tari Randai dipimping seorang Induk Randai. Ada juga anggota Tari Randai yang biasa disebut Anak Randai.

“Pergerakan wisatawan sepanjang Festival Pacu Jalur akan positif. Kondisi ini tentu menawarkan banyak value. Selain pelaku industri pariwisata, masyarakat luas juga bisa menikmati manfaat festival secara ekonomi. Ada banyak sisi yang bisa diekplorasi dari Festival Pacu Jalur tahun ini,” tutup Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.(*)

Bagikan artikel ini: