Nano Hidrogel dari limbah jagung, media tanam tanpa tanah

Senin, 19 Agustus 2019 | 07:09 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Ada kabar baik bagi petani jagung.Apabila selama ini, direpotkan dengan tongkol jagung, karena hanya menjadi limbah tanaman jagung yang volumenya sangat besar.Kini,limbah pertanian tersebut dapat diolah menjadi bentuk nano hidrogel yang dapat memberikan manfaat diantaranya sebagai media tanam.

"Limbah tanaman jagung berupa tongkol jagung bisa mencapai 5,7 ton/tahunnya dan belum termanfaatkan dengan optimal. Dari satu jagung, sekitar 40 persennya tongkol," ujar peneliti madya teknologi pascapanen Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Christina Winarti baru-baru ini.

Menurutnya, tongkol jagung memiliki kandungan selulosa yang besar, mencapai 50%. Kandungan selulosa yang tinggi pada tongkol jagung dapat diproses lebih lanjut antara lain menjadi bahan hidrogel yang bisa dipergunakan untuk bahan lanjutan. Hidrogel banyak digunakan untuk popok sekali pakai/diapers, dan media tanam pengganti tanah. 

"Hidrogel merupakan polimer dengan struktur sedemikian rupa sehingga mampu menyerap air dan menahannya dalam kurun waktu tertentu. Selama ini hidrogel biasanya berbahan sintetis dan telah mengganggu lingkungan karena tidak mudah terurai dengan jumlah limbah yang sangat besar karena pemakaiannya yang sangat luas," kata dia.

Christina menuturkan dengan hidrogel yang berasal dari tongkol jagung ini, diaper menjadi lebih ramah lingkungan.Pasalnya bahan ini dapat menghilangkan atau mengurangi penggunaan polimer kimia yang tidak ramah lingkungan dan sulit terurai.

"Bahan hidrogel ini mudah terurai dan dapat diperbarui serta ramah lingkungan yang berbahan dasar polimer alam, seperti karbohidrat, menjanjikan sifat yang lebih unggul seperti lebih ramah lingkungan (biodegradable), non-toxic, bio-compatible  dan bahan bakunya dapat diperbarui (renewable biosource) serta harganya lebih murah karena bahan bakunya tersedia secara lokal dalam jumlah yang cukup melimpah dibandingkan polimer sintetis," kata dia.

Hanya saja diakuinya hidrogel berbasis polimer karbohidrat ini memiliki beberapa kelemahan diantaranya daya serap air dan kekuatannya relatif rendah.Namun dengan ukuran nano, selulosa di crosslink dengan bahan kimia tertentu atau iradiasi untuk menghasilkan hidrogel yang bisa digunakan sebagai bahan diapers atau media tanam.

Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan hidrogel berbahan baku tongkol jagung dan menggunakan polimer yang ramah lingkungan telah diaplikasikan pada tanaman cabai dan bawang merah. Hidrogel berbasis tongkol jagung bisa ditambahkan bahan lain seperti pupuk, pestisida, dan micronutrient lainnya untuk menambah manfaatnya.

Lebih lanjut Christina menuturkan, Hidrogel yang baik memiliki beberapa kriteria, antara lain: dapat menampung pupuk dalam jumlah yang besar; dapat melepaskan pupuk secara periodik; dapat menahan pupuk dalam waktu yang lama dan dapat menahan kelembaban tanah dan mengendalikan erosi tanah.

Karenanya, untuk mendapatkan sifat yang mendekati sintetik tersebut selulosa perlu dimodifikasi secara kimia untuk meningkatkan sifat mekanisnya.kbc11

Bagikan artikel ini: