Padi bio patenggang rakitan Balitbangtan diadopsi Pemkab OKUT

Rabu, 21 Agustus 2019 | 11:39 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur (OKUT), Sumatera Selatan mendukung pengembangan varietas unggul baru (VUB) padi bio patenggang hasil rakitan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pertanian OKUT yang diwakili Kepala Bidang Tanaman Pangan, Tukiman sebagaimana dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (21/8/2019) pada kegiatan Temu Lapang dan Panen Padi Bio Patenggang di Desa Karangsari, Kecamatan Belitang III, OKUT.

Menurut Tukiman, kendala yang dialami petani pada waktu-waktu tertentu adalah serangan hama wereng batang coklat (WBC), namun hama tersebut tidak menyerang padi bio patenggang karena diterapkannya pengendalian hama secara organik pada padi yang ditanam petani di lahan seluas satu hektar di Desa Bedilan, Kecamatan Belitang, OKUT.

"Kalau melihat pertanaman yg ada, ini cukup aman dari serangan hama, maka sangat potensial dikembangkan di OKUT," ujar Tukiman.

Tukiman juga menyebutkan bahwa pemerintah daerah pada prinsipnya menerima seluruh varietas unggul baru yang sifatnya menguntungkan petani. Terlebih jika varietas tersebut memiliki produktivitas yang tinggi dan memiliki harga jual yang baik, maka ia yakin varietas tersebut akan berkembang dengan sendirinya.

Maningsih, petani dari Desa Karangsari mengaku puas dengan padi bio patenggang yang ditanam. Menurutnya VUB ini memiliki umur yang pendek dan tidak terserang hama sehingga tidak perlu menggunakan pestisida. Sementara produktivitas rata-rata yang diperoleh mencapai 6,3 ton per hektar.

"Kalo dari segi kepuasan cukup puas, karena ada beberapa varietas yang kami tanam, di belakang rumah kami juga tanam varietas lain tapi enggak tahan hama," ungkap Maningsih.

Menurut peneliti Balitbangtan, Dr. Dwinita Wikan Utami, bio patenggang merupakan turunan esensial dari varietas unggul situ patenggang yang tersisipi gen ketahanan terhadap penyakit blas. Selain lebih tahan terhadap penyakit blas, varietas ini juga responsif terhadap aplikasi budidaya organik sesuai tetua asalnya yakni situ patenggang.

"Jika dilihat dari segi produksi, bio patenggang lebih menguntungkan karena pengendalian hama dapat dilakukan secara organik sehingga tidak perlu menggunakan pestisida yang saat ini dirasakan mahal oleh petani," ujar Dwinita.

Bio patenggang dihasilkan menggunakan pendekatan pemuliaaan molekuler. Dengan menggunakan metode tersebut, karakter ketahanan blas dari tetuanya dapat ditingkatkan tanpa mengubah karakter positif dari tetua asalnya.

Selain bio patenggang, Balitbangtan juga mengembangkan dua VUB hasil pemuliaan molekuler lainnya di OKUT, yakni inpari blas dan inpari 40. Dari pengembangan tersebut diharapkan pemanfaatannya dapat lebih luas dan mengatasi masalah yang dialami petani. kbc11

Bagikan artikel ini: