AB2TI rilis varietas padi dengan produktivitas mumpuni

Rabu, 21 Agustus 2019 | 21:06 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) kembali memperkenalkan varietas padi unggul IF (Indonesian Farmers) 16 yang mempunyai produktivitas mencapai 12 ton per hektare  gabah kering panen atau GKP.

Ketua Umum AB2TI Dwi Andreas Santosa dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu, (21/8/2019) mengatakan varietas padi IF16 yang tahan hama penyakit seperti wereng batang cokelat, penggerak batang padi dan blast, merupakan pengembangan lebih lanjut dari varietas padi IF8.

Menurut dia dalam siaran pers, saat panen padi IF16, di Widasari, Kabupaten Indramayu, Senin (19/8/2019) diperoleh hasil ubinan mencapai 12,2 ton GKP per hektare, bahkan April lalu saat uji coba pertama sebanyak 14,06 ton per hektare GKP. Sedangkan potensi sesungguhnya dari benih tersebut sebesar 16,3 ton GKP per hektare.

"Keunggulan lainnya varietas IF16 dengan varietas lainnya, umurnya genjah (pendek) yakni hanya 90 hst (hari setelah tanam) atau 104 hss (hari setelah sebar) di musim gadu," katanya.

Dwi Andreas mengakui varietas padi IF16 merupakan keturunan dari IF8 yang disilangkan dengan varietas lokal dari Malang pada 14 Agustus 2014 di Sekretariat Nasional AB2TI.“Jadi kemunculan IF16 ini bukan tiba-tiba. Bahkan melalui jejaring AB2TI, kami telah menyebarkan varietas ini ke belasan kabupaten," ujarnya.

IF16, tambahnya memiliki jumlah anakan rata-rata 28 dan bulirnya 160 - 200 per anakan, sehingga layak untuk dikembangkan.Menurut Dwi Andreas, bukan hanya petani AB2TI di Indramayu yang tertarik menanam varietas IF16, tapi petani sekitar lainnya. Bagi petani lain,varietas IF16 dikenal dengan sebutan Ciherang Tuban karena merupakan hasil seleksi dari Tuban.

Kepala Pusat Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVT) Erizal Jamal menyatakan, pihaknya telah mengirimkan tim untuk mengunjungi lokasi penanaman IF16 pada 14 Agustus 2019 dan menyatakan kekagumannya terhadap IF16.

Aryanto, dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat juga mengakui, keunggulan varietas tersebut sebab meski jumlah rumpun IF16 dalam satu ubinan hanya 48, namun produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan Inpari 32 yang mempunyai rumpun hingga 60. “Dari hasil ubinan produktivitas IF16 mencapai 12 ton per hektare, padahal rata-rata di Jawa Barat hanya 5,8 ton per hektare,” katanya.

Sementara itu jika dibandingkan dengan varietas IF8 menurut Dwi Andreas, dari sisi rasa IF16 merupakan beras pulen sehingga cocok untuk masyarakat Jawa sedangkan IF8 lebih cocok untuk konsumsi masyarakat Sumatera yang menyukai beras agak pera .

Namun demikian jika dibandingkan dengan varietas yang biasa di tanam petani yakni Ciherang, IF8 mempunyai produktivitas hampir dua kali lipat dibanding Ciherang, meski umurnya lebih panjang.Karena kelebihan itu, lanjutnya varietas IF8 tersebar dengan cepat di kabupaten Aceh Utara dan kabupaten lainnya yang akhirnya menimbulkan kontroversi.

Menurut Dwi Andreas, varietas IF8 berasal dari petani Karanganyar yang berhasil menyeleksi beberapa galur sejak tahun 2012. Sejak tahun 2014 hingga 2015, varietas IF8 ditanam petani di 13 kabupaten jejaring AB2TI di Indonesia. Hasilnya produktivitas IF8 lebih tinggi 57,36 persen dari petani sekitar.

Dengan hasil itu, lanjutnya sebanyak 9 kampung di Aceh berniat untuk menanam IF8 dengan menyediakan lahan seluas 400 hektar.Bahkan varietas IF8 diserahkan langsung ke Gubernur untuk kemudian disalurkan ke petani untuk lahan seluas 200 ha. “Panen pada April 2018, produksinya lebih tinggi hampir dua kali lipat varietas lainnya, sehingga menjadi sangat dikenal di Aceh Utara,” katanya.

Namun Dwi Andreas menilai sikap petani untuk membudidayakan varietas IF8 tidak bisa disalahkan. Sebab secara konstitusi, UU No. 12 Tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman, petani bebas membudidayakan tanaman yang mereka inginkan. 

Berdasarkan hasil yudicial review terhadap UU No. 12 Tahun 1992, Mahkamah Konstitusi melalui keputusannya Nomor 99/PUU-X/2012, mengubah Pasal 12 ayat (1) UU No 12/1992 menjadi “Varietas hasil pemuliaan atau introduksi dari luar negeri sebelum diedarkan terlebih dahulu dilepas oleh Pemerintah kecuali pemuliaan oleh perorangan petani kecil dalam negeri”.

“Karena petani kecil yang memproduksi dan mengedarkan. Jadi saya lihat tidak ada UU yang dilanggar. Apalagi penyebaran tersebut sebatas di komunitas AB2TI sehingga tidak melanggar peraturan pemerintah,” tegasnya.

Mengenai hal ini, Erizal Jamal menegaskan benih merupakan pondasi pertanian sehingga perizinannya diatur ketat  pemerintah dalam hal ini Kementan."Kewajiban mendaftarkan temuan benih dan sertifikasi adalah upaya pemerintah menjamin kualitas benih bermutu," ujar Erizal Jamal melalui keterangan tertulis.

Menurut Erizal benih yang belum tersertifikasi sangat rentan terhadap pemalsuan benih, dan pemerintah tidak ingin petani menanggung resiko kerugian mereka akibat pelaku usaha yang tidak patuh aturan."Dampak ekonomi akibat benih palsu dapat merugikan bagi petani yang menggunakan benih dan berdampak bagi kerugian ekonomi suatu wilayah," kata dia

Erizal mengingatkan banyak negara yang merasakan dampak negatif dari pengedaran benih sembarangan tersebut. Yakni kesulitan mengatasi wabah hama dan penyakit tanaman yang bisa menghancurkan pangan.

Contohnya, wabah hama ulat grayak yang menyerang tanaman pangan pokok secara meluas di Zambia, Zimbabwe, Afrika Selatan, Ghana, bahkan Malawi, Mozambik dan Namibia, karena masuknya benih berpenyakit. kbc11

Bagikan artikel ini: