Mata uang emerging market fluktuatif, emas jadi buruan bank sentral dunia

Rabu, 28 Agustus 2019 | 07:27 WIB ET

SINGAPURA, kabarbisnis.com: Aksi beli besar-besaran komoditas emas oleh bank sentral dunia diprediksi akan terus berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.

Setidaknya, hal ini diyakini oleh Australia & New Zealand Banking Group Ltd (ANZ). ANZ bahkan melihat, sejumlah negara berpotensi untuk membeli emas, termasuk di dalamnya China.

"Dalam situasi seperti saat ini, di mana tingkat ketidakpastian pada mata uang emerging market sangat tinggi, kami melihat adanya alasan yang bagus untuk sejumlah negara seperti Rusia, Turki, Kazakhstan dan China untuk terus melakukan diversifikasi portofolio mereka," jelas ANZ seperti dikutip dari Bloomberg. 

Pembelian bersih di sektor ini diprediksi akan tetap berada di atas 650 ton.

Akumulasi pembelian emas oleh bank sentral terus muncul dan menjadi tren tersendiri pada market global.

Faktor ini memberikan dorongan terhadap harga emas yang sudah reli ke level tertingginya sejak 2013 akibat melonjaknya permintaan.

Bank sentral sejumlah negara terus menambah cadangan emas mereka seiring perlambatan pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan meningkatnya ketegangan geopolitik.

Selain itu, sejumlah negara juga terus melakukan diversifikasi portofolionya dengan menjauh dari investasi dollar AS. Menurut ANZ, pembelian emas oleh bank sentral menyumbang sekitar 10% dari konsumsi emas dunia.

"People's Bank of China memegang hampir 1.936 ton emas, yang setara dengan 3% dari kepemilikan cadangan mata uang asing mereka, sehingga China memiliki ruang untuk meningkatkan alokasinya," papar ANZ.

Data yang dirilis World Gold Council menunjukkan, dalam enam bulan pertama tahun ini, bank sentral China sudah menambah sekitar 374,1 ton emas, dan ikut menyumbang kenaikan permintaan emas ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Tren ini diprediksi akan terus berlanjut.

Pada transaksi Selasa (27/8) pagi, harga emas di pasar spot diperdagangkan di posisi US$ 1.529,15 per troy ounce setelah sebelumnya menyentuh level US$1.555,07 per troy ounce pada Senin. Ini merupakan level dalam enam tahun terakhir.

Mengutip data Bloomberg, sepanjang tahun ini, harga emas sudah melonjak 19% seiring memanasnya perang dagang.

Apalagi, pasar obligasi juga menunjukkan sinyal bahwa ekonomi AS akan jatuh ke jurang resesi dan The Fed bakal terus memangkas suku bunga acuannya. kbc10

Bagikan artikel ini: