Pneumonia, penyakit paru-paru yang jadi penyebab kematian terbesar kedua pada anak

Rabu, 28 Agustus 2019 | 18:19 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Minimnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit pneumonia menjadikannya sebagai salah satu penyebab tertinggi angka kematian pada balita. Bahkan data Riskes menunjukkan, penyakit pneumonia menempati urutan kedua penyakit yang mematikan setelah diare.

Pneumonia adalah penyakit infeksi yang menyerang paru, sehingga menyebabkan kantung udara di dalam paru meradang dan membengkak. Kondisi kesehatan ini sering kali disebut dengan paru-paru basah, sebab paru bisa saja dipenuhi dengan air atau cairan lendir.

Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair Surabaya Dr. Muhammad Athoillah Isfandiari, dr, M.Kes, mengatakan bahwa Indonesia masuk pada jajaran negara paling tinggi kasus pneumonia, setelah India dan Nigeria. Dari 147.000 anak yang meninggal, 17 persen adalah penderita pneumonia. 

"Pada tahun 2018, kasus pneumonia di Jatim memang masih dibawah angka nasional, tetapi secara umum angka nasional naik. Pada tahun 2013, angka pneumonia mencapai 1,6 persen sekarang naik menjadi  2 persen," terang Athoillah di sela-sela diskusi media di Hotel Kampi Surabaya, Rabu (28/8/2019).

Salah satu tingginya angka kematian akibat pneumonia ini ditengarai akibat masih belum menyeluruhnya cakupan imunisasi kepada balita. Kenaikan angka kelahiran tidak sebanding dengan kenaikan cakupan imunisasi. Data Riskes menyebutkan, angka cakupan imunisasi pada tahun 2018 hanya mencapai 57,9 persen padahal pada tahun 2013 mencapai 59,2 persen.

"Padahal salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegahnya adalah dengan imunisasi," katanya.

Dengan adanya upaya preventif, maka biaya yang dikeluarkan seseorang jauh lebih murah. Kalau serangan pneumonia itu terjadi, biaya pengobatan yang dikeluarkan bisa sampai puluhan juta. "Dukungan lainnya tentu saja kebiasaan hidup sehat. Polusi yang terjadi di sebuah daerah juga berpengaruh," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr Kohar Hari Santoso menuturkan, serangan pneumonia paling banyak dialami balita dengan rentang usia dibawah lima tahun dan manula.

"Ada banyak faktor yang mempengaruhi. Lingkungan dan kesadaran masyarakat dalam memahami upaya preventif harus bisa ditingkatkan," kata Kohar ketika ditemui 

Di Jatim, ujarnya, sepanjang 2018 kasus pneumonia yang terjadi  mencapai 92.913 untuk penderita dibawah usia lima tahun. Sementara penderita di atas lima tahun ada 32.910 orang.

Data di Dinas Kesehatan Jawa Timur sendiri sepanjang tahun 2018 kemarin, mencatat penemuan penderita pneumonia tertinggi pada bulan Maret, sebanyak 9.116 orang. Disusul bulan Februari sebanyak 8.392 orang, dan bulan Januari sebanyak 8.195 orang pasien. 

"Secara kemasyarakatan, kita memang butuh menumbuhkan kesadaran mereka terhadap pentingnya imunisasi. Karena imunisasi ini adalah salah satu upaya kita untuk menumbuhkan daya tahan tubuh seseorang, utamanya pada anak. Tetapi memang kami mengalami beberapa kesulitan untuk masuk di daerah tertentu karena adanya penolakan. Intinya jangan takut imunisasi karena pasti ada pendampingan," ujarnya

Sementara itu Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa, Tubagus Arie Rukmantara mengatakan, pemerintah sebaiknya lebih banyak mengalokasikan anggaran untuk pencegahan penyakit menular semacam pneumonia ini.

"Jika dibandingkan dengan ketika sudah sakit dan harus diobati, maka biaya yang harus dikeluarkan oleh pasien akan jauh lebih besar. Maka dari itu tindakan pencegahan ini akan sangat tepat," 

Sayangnya saat ini alokasi anggaran untuk upaya preventif masih kalah porsinya dibandingkan upaya pengobatan. Baik itu dilakukan dengan membeli obat langsung oleh pasien menggunakan asuransi swasta, maupun yang dijamin oleh pemerintah melalui program BPJS.

Hal senada juga diungkapkan Dr. dr. Dominicus Husada SpA.K. Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jawa Timur ini juga menyoroti masih minimnya dukungan pemerintah dalam upaya pencegahan penyakit menular ini. 

"Kalah dibanding dengan membayar BPJS untuk mengobati yang sudah sakit. Karena pencegahan itu memang hasilnya tidak terlihat. Padahal untuk investasi di masa depan, nilai anak-anak yang kebal dari serangan penyakit menular ini jauh lebih menguntungkan dibanding dengan anggaran yang dikeluarkan untuk BPJS," ujar Dr. Dominicus. 

Namun demikian menurut Dr. Dominicus, pemerintah kini juga tengah berupaya menambah satu jenis imunisasi untuk penyakit menular di Indonesia.

"Saat ini belum diputuskan, apakah memasukkan imunisasi untuk diare atau pneumonia. Keduanya adalah penyebab kematian tertinggi anak di Indonesia. Ini masih alot dan tarik ulur," pungkas Dr. Dominicus. kbc6

Bagikan artikel ini: