Subsidi disepakati Rp1.500, harga Solar tahun depan bakal naik?

Kamis, 29 Agustus 2019 | 05:49 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: Pemerintah dan DPR tengah menyusun asumsi dasar Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) 2020. Salah satu pembahasannya adalah pengurangan subsidi solar dari Rp 2 ribu per liter menjadi Rp 1.000 per liter.

Hal ini diusulkan untuk mengalihkan subsidi ke sektor yang lebih produktif dan perkiraan penurunan harga minyak dunia.

"Yang penting subsidi terbatas solar dalam nota keuangan Rp 1.000. Ini dua asumsi harga minyak turun sekarang sudah turun. Kedua kita kurangi subsidi supaya dananya lebih tepat sasaran," kata Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan, saat rapat dengan Komisi VII DPR, Jakarta, Rabu (28/8/2019).

Jonan pun menyebut, ada potensi kenaikan harga solar subsidi sebesar Rp 1.000 per liter dari harga saat ini Rp 5.150 per liter, jika subsidi dikurangi menjadi Rp 1.000 per liter dengan harga minyak mentah seperti saat ini di level US$9 per barel.

"Tidak ada yang bisa tau harga minyak mentah di tahun depan, kalau seperti sekarang sedkit dibawah US$60 per barel, itu ada kecenderungan harganya berpoteni naik seribu dari Rp 5.150 per liter," tuturnya.

Jonan pun mengungkapkan, jika harga minyak dunia kembali rendah di bawah US$50 per barel dengan subsidi solar Rp 500 per liter, harga solar subsidi bisa tidak perlu dinaikan. Hal ini pernah terjadi pada beberapa tahun lalu.

"Kita nggak bisa tau per Januari harga minyak jadi berapa, kalau Brent jadi US$55 per barel, subsidi seribu itu cukup. Waktu itu cukup subsidi dikasih Rp 500 per liter," paparnya.

Setelah melakukan diskusi dengan anggota Komisi VII DPR, akhirnya disepakati subsidi solar yang dicantumkan dalam RAPBN 2020 sebesar Rp 1.500 per liter turun Rp 500 dari besaran alokasi subsidi yang ditetapkan tahun ini Rp 2 ribu per liter.

"Kita sepakat subsidi solar ditetapkan Rp 1.500 per liter," tutup pimpinan rapat Komisi VII DPR Ridwan Hisjam sambil mengetuk palu. kbc10

Bagikan artikel ini: