BNI pastikan belum evaluasi suku bunga KPR

Jum'at, 30 Agustus 2019 | 07:51 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk menegaskan hingga saat ini belum mengevaluasi suku bunga Kredit Pembiayaan Rumah (KPR) Griya usai Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan BI7 Days Reverse Repo Rate (B7DRRR).

Direktur Konsumer BNI Tambok P Setyawati mengatakan, saat ini bunga KPR bank berkode 46 tersebut disesuaikan dengan kondisi pasar.

Hingga saat ini, seluruh nasabah masih menggunakan bunga berjalan yang sudah berlaku. Meski, dirinya mengungkapkan BNI sempat mengkaji ulang bunga KPR untuk nasabah-nasabah lama yang sudah habis masa promo.

"Untuk nasabah dengan bunga floating memang setiap bulan kami review. Tapi hingga saat ini belum ada kenaikan suku bunga mengingat saat ini BI baru menurunkan suku bunga acuan," ujar dia di Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Seperti diketahui, Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini. Pertama kali suku bunga acuan turun dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2019, sebesar 25 basis poin (bps) dari 6 persen menjadi 5,75 persen.

Sementara pada Agustus 2019, dalam rangka menjaga stabilitas keuangan dan sekaligus mendorong perekonomian, BI memutuskan kembali menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin dari 5,75 persen menjadi 5,5 persen.

Adapun dalam kabar yang sempat beredar yaitu nasabah BNI Griya mendapat informasi kenaikan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) 50 bps, dari 13,5 persen menjadi 14 persen. Adapun kenaikan suku bunga kredit KPR tersebar melalui sms.

Tambok pun menegaskan BNI belum pernah menaikkan suku bunga kredit selama 3 tahun ini.

Saat ini, suku bunga KPR BNI Griya masih di kisaran 9 persen hingga 13,5 persen. Tambok menjelaskan, terdapat beberapa hal yang menentukan besaran suku bunga KPR dari setiap nasabah sesuai dengan profil risikonya.

Misalnya saja, nasabah dengan payroll di BNI atau memiliki tabungan di BNI bisa mendapatkan bunga KPR yang lebih rendah dengan nasabah lain.

"Karena kalau mereka payroll di BNI, pasti transaksinya lebih banyak dan itu risiko mereka akan lebih rendah," ujar dia. kbc10

Bagikan artikel ini: