Usai rugi, AirAsia Indonesia kempit laba Rp11 miliar di kuartal II

Senin, 2 September 2019 | 08:18 WIB ET

JAKARTA, kabarbisnis.com: PT AirAsia Indonesia Tbk akhirnya mampu mengemas laba pada kuartal II 2019. Pencapaian ini berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun lalu yang mencatatkan kerugian.

Pada kuartal II tahun ini terjadi perbaikan hasil yang signifikan dimana perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 11 miliar jika dibandingkan dengan rugi bersih sebesar Rp 203 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Perseroan juga membukukan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar Rp 80 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu rugi sebesar Rp 194 miliar. Peningkatan ini didukung oleh kenaikan permintaan, meningkatnya efisiensi biaya dan kenaikan harga rata-rata tiket pada musim libur sekolah dan lebaran.

Pendapatan Perseroan pada kuartal II 2019 naik 67 persen menjadi Rp 1,66 triliun dari Rp 993 miliar pada periode yang sama tahun 2018. Pendapatan dari hasil penjualan tiket pesawat meningkat 80 persen menjadi Rp 1,39 triliun.

Pencapaian ini didorong oleh peningkatan jumlah penumpang sebesar 58 persen menjadi 1,82 juta dan peningkatan harga rata-rata tiket sebesar 14 persen.

Peningkatan ini berkontribusi terhadap pertumbuhan revenue per available seat kilometre (RASK) sebesar 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal ini Perseroan juga meluncurkan pusat operasi (hub) ke-5 di Lombok dan melayani rute baru Lombok-Perth dan Lombok-Kuala Lumpur. 

"Hasil kuartal kedua ini sangat menggembirakan, dan momentum positif ini akan terus kami jaga untuk memastikan tahun ini akan menjadi tahun yang menguntungkan. Peluncuran rute baru dari hub terbaru kami di Lombok mendapatkan sambutan yang baik dari pelanggan kami, terlihat dari tingkat keterisian yang sangat baik. Kami juga berkomitmen untuk menambah rute domestik dan internasional baru yang potensial," ucap Direktur Utama PT AirAsia Indonesia Tbk, Dendy Kurniawan dalam keterangan tertulis, Minggu (1/9/2019).

Dari sisi kapasitas, terjadi peningkatan jumlah available seat per kilometre (ASK) sebesar 58 persen menjadi 3,071 juta yang disebabkan oleh bertambahnya armada menjadi 25 pesawat dari tahun sebelumnya 15 pesawat.

Tingkat keterisian penumpang / load factor (LF) pada kuartal ini juga meningkat 1 poin menjadi 82 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Biaya keseluruhan dilihat dari unit biaya cost per available seat kilometre ("CASK") dan CASK di luar bahan bakar turun masing-masing sebesar 17 persen dan 25 persen.

Penurunan biaya ini disebabkan oleh turunnya harga bahan bakar dan biaya pemasaran, sejalan dengan inisiatif grup usaha Perseroan untuk beralih dari metode pemasaran konvensional ke digital. 

Hasilnya, pada kuartal ini Perseroan mencatat laba operasi sebesar Rp 42 miliar, berbanding terbalik dengan kerugian sebesar Rp 241 miliar pada kuartal yang sama tahun lalu.

Perseroan juga membukukan EBITDA positif sebesar Rp 33 miliar selama semester pertama tahun 2019, yang menunjukkan perbaikan yang signifikan jika dibandingkan dengan kerugian Rp 426 miliar yang dialami pada semester pertama tahun 2018.

"Semester kedua biasanya lebih ramai, kami yakin pendapatan kami akan bertambah seiring dengan meningkatnya permintaan untuk traveling. Di saat yang sama, kami akan terus fokus pada biaya-biaya untuk memastikan operasional kami tetap efisien," Dendi menambahkan.

"Kedepannya kami berencana mendatangkan 4 pesawat tambahan dan meluncurkan 6 rute baru hingga akhir 2019. Kami akan terus memantau utilisasi armada, perencanaan jaringan penerbangan dan mengatur kapasitas untuk rute-rute yang belum optimal," pungkas dia. kbc10

Bagikan artikel ini: