Asuransi umum punya potensi besar, A3UI siap wadahi agen

Rabu, 4 September 2019 | 00:22 WIB ET

SURABAYA, kabarbisnis.com: Minat masyarakat untuk berasuransi masih tergolong rendah, disisi lain tingkat penetrasi dan densitas industri asuransi masih tidak efektif. Hal ini menjadi potensi  besar bagi perusahaan asuransi umum untuk meningkatkan penetrasi pasar.

Melihat potensi dan peluang itulah dideklasasikan Perkumpulan Ahli Agen Asuransi Umum Indonesia (A3UI). Dimana A3UI memiliki visi menjadi wadah profesi bermartabat dan berkemajuan serta misinya meningkatkan dan berkontribusi kongkrit dalam industri asuransi umum nasional. 

Ketua Umum A3UI, Baidi Montana mengungkapkan, yang melatarbelakangi adanya perkumpulan ini adalah memberikan wadah pelaku agen asuransi kerugian umum di Indonesia yang selama ini belum ada wadahnya. 

“Perkumpulan ini diharapkan mampu mendukung penetrasi dalam rangka meningkatkan kualitas maupun kuantitas salahsatu sektor pelaku asuransi, khususnya agen asuransi kerugian umum di Indonesia,” terangnya disela-sela seminar dan deklarasi pengurus A3UI 2019-2022 di Hotel Shangrilla Surabaya, Selasa (3/9) kemarin. 

Baidi Montana menambahkan tujuan akhirnya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas sehingga diharapkan akan menunjang pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Dari data AAUI agen asuransi umum sekitar 38 ribu agen yang sudah tersertifikasi.

“Target pertama kita adalah 20 persen menjadi anggota A3UI dari 38 ribu agen asuransi umum.  Sekarang anggota A3UI  sebanyak 100 agen yang terdaftar, harapannya setelah dideklarasikan bakal lebih banyak yang tergabung,” ujarnya.

A3UI membuat wadah bersama ini juga untuk mendukung agen asuransi umum dalam mengembangkan keahlian dan profesionalisme. Saat ini sudah ada permintaan untuk membuat DPD di kota besar yakni Jakarta, Semarang, Bandung, Denpasar, Balikpapan dan Medan.

Emil Dardak Wakil Gubernur Jawa Timur mengatakan, industri asuransi perlu memikirkan cara agar asuransi kerugian bisa dimanfaatkan oleh industri menengah lewat skema kolektif. Saat ini asuransi kerugian masih didominasi oleh nasabah dari industri besar saja. 

Hal ini tak terlepas dari tidak mampunya UKM-UKM dalam mengakses asuransi secara individual. Ia berharap, ada skema asuransi kerugian yang bisa diambil secara kolektif.

"Tapi kalau kita agregasi upaya ini berbasis insurrance secara kolektif, mungkin itu bisa dicover. Apalagi kalau ada tools untuk risk management yang memungkinkan risiko dari kerusakan (kerugian usaha, red) bisa diturunkan. Ini menurut hemat kami, ini hal-hal yang kita harap bisa jadi pembahasan (di Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, red)," jelas Emil.

Ia menjelaskan, industri besar di Jawa Timur hanya sekitar 1000-an saja dan memperkerjakan kurang lebih 2-10 persen tenaga kerja di sektor industri. Sedangkan, industri menengah yang berjumlah sekitar 22 ribu bisa memperkerjakan hingga sepertiga pekerja di seluruh Jawa Timur. 

"Ini kan (industri menengah, red) potensial sekali untuk memanfaatkan insurrance tadi," katanya.

Tak hanya itu, ia juga mengatakan, adanya asuransi kerugian di industri menengah mampu mendorong mengalirnya lebih banyak investasi di sektor rill.

"Kita berharap ketersediaan asuransi yang dipahami sektor rill dan juga diketahui manfaatnya oleh investor, akan memperlancar aliran dana dari investor ke investee. Maka ini mendorong perekonomian Indonesia," pungkasnya.

Kepala OJK Regional 4 Jatim, Heru Cahyono mengatakan industri asuransi secara umum berkembang baik di Jatim maupun nasional. Dilihat dari pendapatan premi dari triwulan ke triwulan ini meningkat. “Di jawa Timur porsinya 5-6 persen dari pendapatan premi nasional, jadi ini sangat bagus. Ditambah lagi perkembangan industri asuransi tentunya tidak terlepas dari kondisi perekonomian baik perekonomian nasional maupun daerah,” jelasnya.

Sementara itu peran dari industri asuransi cukup signifikan juga untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomian nasional juga daerah. 

“Karena industri asuransi ini menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkan kembali tentunya untuk tujuan perkembangan pembangunan. Seperti asuransi beli saham, asuransi beli obligasi ini kan otomatis jadi sumber dana bagi pemerintah,” pungkas Heru Cahyono. kbc5

Bagikan artikel ini: